Sunday, November 23, 2008

HELLO FESTIVAL & GADIS BOND

Pengen banget refresh otak? Kemana ya, kemana ya?
Sabtu siang pas lagi bikin-bikin rencana tiba-tiba seseorang penggemar animasi mengajak lihat Hello Festival di Balai Kartini. Hm, oke juga tuh. Eh, ternyata ketemu beberapa teman kantor di sana. Meski aku bukan penggemar animasi, tapi oke juga buat nambah pengetahuan. Hanya sayangnya, kami gak bisa masuk ke dalam untuk ngelihat film-film animasi yang lagi diputar karena ruangan udah full. Kasihan deh! Trus kemana lagi nih?

Aku tiba-tiba ingat pesan sponsor and kata-kata mutiara produser di kantor agar menonton James Bond terbaru, “Quantum Solace”. Akhirnya kita ke Setiabudi untuk menemui James Bond, halah. Hm, seru sih! Craig seperti menciptakan karakter baru untuk Bond menjadi keras, kuat dan tidak plamboyan. Gadis Bond kali ini exotis banget.
Tapi aku gak pengen komentar banyak soal film itu, so..nonton aja sendiri! :P

Friday, November 21, 2008

In Your Smile

Waktu membenamkan mereka dalam kubangan rasa.
Masih segar luka hati gadis itu saat bertemu dengannya. Gayanya yang kalem, sikapnya yang tulus dan senyumnya yang menawan membuat gadis itu merasa nyaman berada disampingnya. Ngobrol dibalkon sambil memandangi kerlip lampu Jakarta, bercanda ataupun sekedar makan bareng di tempat-tempat yang berdesakan dan panas. Gadis itu diam-diam mengagumi seseorang yang tiba-tiba hadir mengisi hari-harinya, memerhatikannya tentang hal-hal kecil dan menatapnya dengan mata sayu dari kejauhan.

Banyak hal yang berubah sejak gadis itu bertemu dengannya. Kedewasaan dan ketulusan pemilik mata sayu itu membuatnya belajar tentang kebaikan, tentang cinta sejati dan tentang sepenggal kehidupan yang fana. Dan gadis itu pada akhirnya meyakini, masih ada lelaki baik di dunia ini. Yang sanggup melakukan ketulusan, kesetiaan dan kejujuran.

Dan percayakah kau, bahwa misteri yang Allah ciptakan adalah misteri terindah yang dijalani setiap makhluknya? Ya, gadis itu tak pernah menyangka bahwa setelah dipermainkan seseorang hingga terluka akan bertemu orang yang lebih baik. Bahwa Allah telah merencanakan segalanya untuk kebaikan semua hambanya.

“Aku ingin melihat senyummu setiap saat,” kata gadis itu saat mereka duduk di balkon memandangi kerlip lampu Jakarta.
“Dan aku akan selalu tersenyum padamu,” jawab lelaki itu seraya memperlihatkan senyumnya yang menawan.

Mereka saling tertawa lalu menatap masa depan yang gemerlap di kejauhan. Lampu-lampu Jakarta malam hari, semakin menawan.

Thursday, October 30, 2008

PETI AKAR

Akhirnya novel misteriku dengan nama pena baru terbit juga...Senangnya hehehe...
Jangan lupa dapatkan di toko buku terdekat ya...Pastinya asyik, menyeramkan sekaligus cerdas, halah! Narsis amat! Buktikan deh, kalo gak percaya...;)

Sunday, October 26, 2008

Soulmate

Saking sibuknya seseorang bekerja di kantor, aku sering dengar kata-kata gini : “kapan gue punya kehidupan?” Tapi sebagian orang malah mengatakan : “inilah kehidupan gue…” Dan dengan menemukan kehidupannya di tempat bekerja, maka pekerjaan itu ibarat soulmate bagi mereka.

Aku merasakan bertemu soulmate itu sekarang ( maksudnya soulmate pekerjaan). Bekerja di lingkungan orang-orang creative dengan ide-ide segar yang setiap menit selalu menguar (halah bahasanya keren amat!) membuat semangat selalu menyala. Menciptakan hal-hal baru yang menarik dan bertemu orang-orang baru yang selalu punya ide-ide unik kadang konyol membuatku seperti terlahir kembali. Apalagi menemukan orang yang teryata punya idealis tinggi untuk menciptakan tontonan yang bermutu. Jadi makin semangat untuk belajar dan terus belajar.

Kamu percaya nggak, kalau akhir dari setiap kesedihan selalu ada kebahagiaan di sisi yang lain? Aku sangat percaya karena sering banget mengalami itu. Setelah limbung karena something yang kalau dipikir-pikir membuatku tertawa sendiri, sekarang aku menemukan dunia baru yang so far membuatku lebih berbahagia. Ada yang bilang dunia broadcast memang dunia yang menyenangkan dan surganya orang-orang creative. Hanya saja mungkin sangat aneh bagi sebagian orang. Bayangin aja, jam kerja kami tidak menentu, kadang bisa pulang jam 3 pagi saat jelang shooting atau nggak pulang sama sekali. Bapak-bapak di kantor bilang : “kalo loe punya pacar, pasti deh diputusin. Nah, nyari aja di sini.” Hehehe. Kayaknya dari ide beginian nih yang menyebabkan cinta lokasi. Ya, gimana lagi? Kerja jungkir balik satu tim nyiapin shooting, jatuh-jatuhnya udah jadi senasib sepenanggungan kayak keluarga. Dan…apakah bakal ada cinta lokasi? Kita lihat saja setelah jeda iklan berikut ini. Wekekkekekke….

Thursday, October 09, 2008

Back to Office

Setelah kembali ke kampus, mulai tanggal 6 lalu saya kembali ke kantor!
Hm, menyenangkan juga bekerja dalam tim yang asyik dengan pikiran yang fresh. Meski ritme kerjanya keras tapi karena saya menyukai pekerjaan ini (setidaknya untuk saat ini) maka semua malah menjadi semangat tersendiri. Saya selalu yakin, ketika kita mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh maka suatu ketika akan dapat dipetik hasilnya. Suer? ;)
Semoga pekerjaan baru ini membawa berkah, amin....

Monday, September 15, 2008

Back to Campus

Setelah bertahun-tahun menunda keinginan, akhirnya tahun ini aku back to campus. Senengnya... Punya banyak teman baru yang lucu-lucu dan kadang ngaco bikin hidup lebih hidup! Apa sih? Yang jelas jadi lebih semangat. Apalagi dengan kuliah ini aku jadi bisa menyeimbangkan antara kerja otak kanan dan otak kiriku. Kalau selama kerja aku selalu menggunakan otak kanan, maka selama kuliah aku mengasah otak kiri. Semoga ini akan menyeimbangkan otakku dan jadi lebih baik dalam bertindak. Amin.

Tuesday, September 02, 2008

"Perempuan Dalam Koin" - short story

Suara Pembaruan, Minggu 31 Agustus 2008

Aku melompat keluar dari dalam koin saat gerimis turun. Kukibaskan ujung celana panjangku yang terciprat air kubangan. Angin senja menderu menerpa wajah, dingin menggigilkan. Koin seratus rupiah keluaran tahun 1978 itu berada di ujung kakiku. Aku mengambil koin itu dan mengusap debu yang menempel di permukaannya. Kuamati gambar hutan dalam koin itu. Di sanalah aku tinggal selama empat tahun terakhir. Tempat bersembunyi yang nyaman dan aman dari serangan bayang masa lalu dan ancaman masa depan.

Kukenang pertemuanku dengan koin ini. Tak tahan dengan perihnya kesepian, malam itu aku sempoyongan keluar dari diskotek. Mabuk berat. Saat memuntahkan seluruh isi perut di halaman diskotek, tiba-tiba pandanganku yang kabur menyambar kilatan koin di samping muntahan. Aku mengambil koin itu dan keinginanku muntah teralihkan sejenak. Saat menatap gambar hutan di salah satu sisinya tiba-tiba muncul cahaya dari dalam koin. Aku terpana menatap cahaya itu dan tersedot masuk ke dalam koin. Tak memerlukan waktu lama, aku sudah berada di hutan. Rasa mualku lenyap dan aku menemukan kedamaian yang luar biasa.

Aku memutuskan tinggal di dalam hutan itu dan membangun rumah kayu. Pagi-pagi aku keluar dari koin untuk berangkat bekerja dan malam hari kembali pulang ke dalam koin. Meski sendirian, kurasa hutan ini tempat paling cocok untukku. Aroma dedaunan yang pekat dan gemericik air sungai membuat rongga dadaku melebar dan nafasku longgar. Mimpi-mimpi malamku yang menakutkan karena bayang masa lalu lenyap dan suara-suara ancaman masa depan di telingaku menjauh. Aku menyebut tempat tinggal baruku ini hutan tanpa ketakutan.

Aku tersenyum mengingat pertemuanku dengan koin ini. Beruntung aku menemukan hutan dalam koin ini, kalau tidak, mungkin aku sudah menjadi pasien rumah sakit jiwa setelah perceraian itu. Kembali kuusap koin di tanganku dan kubalik perlahan. Gambar rumah gadang dengan atapnya yang menjulang singgah di mataku. Tiba-tiba aku melihat sesuatu bergerak-gerak di halaman rumah gadang itu. Aku memicingkan mata dan menemukan sesosok perempuan sedang membungkuk mengenakan sepatu. Perempuan itu bergerak mendekati mataku dan siap-siap melompat. Aku menepikan wajahku dan menunggu perempuan itu keluar dari dalam koin.

Begitu menjejakkan kaki di tanah, perempuan itu menatapku lekat. Matanya yang besar terlihat bingung sejenak lalu ia membuang pandang. Perempuan ini tidak cantik dan wajahnya cenderung sendu. Rambutnya terurai sebahu dan lingkaran hitam di bawah matanya seolah menjelaskan begitu banyak beban yang dipikulnya. Mengenakan celana jins belel dan kaus oblong ia tampak seenaknya. Ransel hitam menggantung di punggungnya dan tangan kanannya dihiasi gelang manik-manik antik. Aku menaksir perempuan ini memiliki tahun lahir tak jauh beda denganku.

"Kau tinggal di dalam koin?"
Perempuan itu mengangguk malas.
"Aku juga tinggal di dalam koin, tetapi di sebaliknya," kataku seraya membalikkan koin dan menunjukkan gambar hutan padanya.
"Kau ingin ngobrol denganku?" tanya perempuan itu sambil memeriksa jam tangannya. "Aku ada pekerjaan yang mesti kuselesaikan. Kalau kau ingin ngobrol, kau boleh ikut aku ke kafe."
Aku mengeryit. "Kau pelayan kafe?"

Ia menggeleng lalu berjalan meninggalkanku. Tanpa pikir panjang aku mengikuti langkahnya menyusuri trotoar. Setelah melewati deretan bangunan tua, perempuan itu berbelok ke salah satu kafe. Suasana Jakarta tempo dulu menyergapku begitu pintu kafe terbuka. Semua perabotan dan hiasan menyiratkan kehidupan zaman Belanda. Setelah memesan dua cangkir kopi dan brownies, perempuan itu membawaku ke lantai atas. Ia memilih meja pojok menghadap jendela.

"Meja ini tempat favoritku, pemandangan di jendela tampak indah," katanya sambil mengeluarkan laptop dari ransel. "Jadi sejak kapan kau tinggal di koin bergambar hutan itu?"
"Sudah empat tahun, kau sendiri?" aku balas bertanya.
Ia membuang pandang keluar jendela. "Seumur hidupku ini."
"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam koin yang sama sedangkan koin ini ada di tanganku? Bagaimana kau menemukan jalan kembali?"
Ia mengeluarkan sebuah koin dari saku celana jinsnya. "Aku juga punya koin yang sama, keluaran tahun yang sama. "
Pelayan datang mengantarkan dua cangkir kopi dan brownies. Perempuan itu kembali sibuk memencet-mencet tombol laptopnya. Wajahnya yang sendu berubah merana. Mungkin ia akan terlihat manis kalau tersenyum. Tanpa bicara padaku, ia memotong brownies dan meminum secangkir kopinya.

"Pekerjaanmu apa?" tanyaku penasaran.
"Aku seorang pendongeng."
Aku memandangnya takjub. Ia tersenyum sedikit dan aku bisa membuktikan bahwa perempuan ini cukup manis
*

Pertemuan dengan perempuan dalam koin itu kemudian menjadi agenda mingguanku. Aku sengaja keluar dari dalam koin pada hari minggu untuk ngobrol atau sekadar jalan-jalan dengannya di sebuah pusat pertokoan. Membeli barang-barang yang kami perlukan atau makan di tempat yang kami inginkan. Perlahan aku mulai menyelami pribadi dan karakternya. Ia mencintai pekerjaannya sebagai penulis dan menjelma sosok yang emosional.

"Aku ingin melihatmu tertawa," pintaku suatu siang saat kami menyusuri taman kota.
Ia memandangku jemu. "Tertawa? Apa yang harus kutertawakan?"
"Ayolah! Aku ingin melihatmu ceria, tegar, penuh semangat dan tidak ketakutan menghadapi hidup."
"Aku semangat dan tidak takut menghadapi hidup," jawabnya. Matanya menantang mataku. "Kalau aku tidak tegar, aku tidak akan bertemu denganmu. Ayahku mengkhianati ibuku lalu meninggalkan kami. Kekasihku mengkhianatiku lalu meninggalkanku. Sampai hari ini belum ada yang membuatku tertawa. Hanya tulisan- tulisanku yang mungkin akan mengantarku tertawa suatu ketika."

Aku tersentak lalu membuang muka dari sorot matanya yang membakarku. Mata itu seperti bara yang mengulitiku perlahan-lahan hingga terasa panas menyakitkan. Tiba-tiba anganku melesat ke masa silam. Mengingat seseorang yang kutinggalkan dan penyesalan yang terjadi setelahnya. Penyesalan yang membuatku memutuskan tinggal dalam koin itu. Apakah sosok mungil yang kutinggalkan itu akan seperti perempuan di depanku ini? Ataukah justru menjadi sesuatu yang lebih buruk lagi? Terkadang kita menciptakan monster- monster dalam diri orang lain tanpa kita sadari.

"Apakah kau bercita-cita menjadi lilin?" tanyanya mengagetkan lamunanku yang sekejab.
"Menjadi lilin? Maksudmu?"
Perempuan itu tersenyum sinis. "Kau selalu ingin menerangi orang lain, mendorong orang lain untuk tegar tetapi membiarkan dirimu sendiri leleh. Seharusnya kau mengubah cita-citamu."

Aku termenung. Perempuan itu memiliki intuisi yang tajam. Ia bisa membacaku. Aku memang ingin menjadi lilin bagi orang-orang yang secara tidak langsung menjadi korbanku. Meneranginya, membuatnya bangkit dari trauma yang berkepanjangan, tertawa ceria namun diriku sendiri meleleh. Tidak sanggup berhadapan dengan masa lalu.
"Kau sendiri apakah punya banyak hal yang membuatmu tertawa?" tanyanya seperti tamparan di wajahku.

Aku tertawa kecil, tawa yang hambar. Sesungguhnya aku ingin mengatakan pada perempuan itu bahwa ia telah memenangi sebagian dari pertarungan hidup. Ia sanggup membuka diri di hadapan orang lain, mengakui kepedihannya, mengakui traumanya dan menerima dirinya. Sedangkan diriku, masih bersembunyi di dalam bunker. Diam-diam, aku iri pada perempuan itu.
*

Hampir sebulan aku kehilangan perempuan dalam koin itu. Mendadak hidupku sedikit runyam. Aku kehilangan teman ngobrol yang menyenangkan. Sinisme-sinismenya yang terkadang membuatku tertohok hingga sedikit marah dan dongeng-dongengnya yang menghibur.
Setiap pagi sebelum berangkat bekerja aku menunggunya di muka koin bergambar rumah gadang. Berharap ia sedang membungkuk mengenakan sepatu atau menyapu halaman rumahnya, namun ia tak kunjung muncul. Kukunjungi tempat ia menyelesaikan dongeng-dongengnya, tetapi tak kutemukan juga.

Bulan kedua, aku memberanikan diri mengusap sisi koin bergambar rumah gadang itu. Cahaya muncul dari dalam koin dan aku nekat memasuki koin itu. Setelah jatuh terpental di halaman rumah gadang, aku segera bangkit dan menyusuri undakan rumah. Kuketuk pintunya yang tertutup rapat. Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara sandal diseret dari dalam rumah mendekati pintu.

"Oh, kau masuk ke dalam koinku?" tanyanya kaget.
Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah. Beberapa tas bepergian berjajar di samping pintu. Bahkan ia sudah menyandang ranselnya seperti hendak bepergian.
"Kau hendak pergi?" tanyaku.
Perempuan itu mengangguk dan tersenyum lebar. Sesaat aku terpana menatap lekuk bibirnya yang membuatnya tampak sangat manis. Wajahnya juga terlihat cerah dan penuh semangat.
"Aku memutuskan tidak tinggal di dalam koin lagi," katanya masih tersenyum. "Dunia di luar sana terkadang memang mengerikan, tetapi aku bukan pengecut. Aku sudah siap menghadapi apapun yang sudah terjadi dan bakal terjadi. Karena itu, aku akan pergi."

Aku terhenyak. Ingin kucegah kepergiannya, tetapi bukankah menghadapi kenyataan lebih baik ketimbang bersembunyi di dalam bunker hidup seperti aku? Aku membantunya mengangkat tas bepergian dan mengantarnya keluar dari dalam koin. Ia mengulurkan tangannya padaku saat taksi tiba.

"Apakah kita tak akan bertemu lagi?" tanyaku bergetar.
Perempuan itu tertawa kecil. Tawa pertama yang pernah kudengar darinya. "Mungkin kita akan bertemu, mungkin juga tidak. Tergantung berapa lama kau sanggup keluar dari dalam koin itu dan berani menghadapi kenyataan."

Ada yang bergerak menjauh dari hatiku saat taksi meninggalkan tempatku berdiri. Kuambil koin di saku celanaku, kupandangi sejenak dan kubolak-balik perlahan. Berapa lama lagi aku akan bersembunyi di dalam koin ini? Mungkin setahun, dua tahun...
Entahlah.

Kemang, 2008
To: Irfani

Monday, September 01, 2008

Sahabat yang Tepat disaat yang Tepat

Pernah gak merenungi perjalanan hidup ini dan belajar mensyukuri bahwa segala sesuatu yang kita peroleh saat ini adalah yang terbaik untuk kita dan yang tepat untuk kita? Hm, pernah juga gak merasakan bahwa lambat laun mimpi-mimpi kita tentang suatu hal yang 'baik-baik' itu terwujud?
(Foto By : Aye)
Dan saat merenung kayak gitu, saya sering merasa betapa tidak bisa bersyukurnya saya dan betapa naifnya saya.Karena hobby melamun ( mungkin lebih baik merenung ya) aku selalu mencoba memahami bahwa apapun yang terjadi dalam hidupku adalah yang terbaik. Bahwa segala sesuatunya adalah pembelajaran. Juga pertemuanku dengan bermacam-macam orang yang selalu tak terduga.

(Foto By: Aye)
Saat aku butuh semangat, Allah mempertemukanku dengan sahabat-sahabat di Yayasan Martabat. Mereka yang hampir semuanya S2 beasiswa dari luar negeri (Belanda, Filipina, Australia) mendedikasinya diri untuk kawasan kumuh Tambora dan berusaha memajukan adik-adik yang terancam putus sekolah dengan memberi beasiswa pendidikan dan mengajar tiap hari minggu. Padahal sahabat-sahabat ini punya segudang kesibukan yang luar biasa padatnya. Subhanallah!
(Foto By: Aye)
Dari adik-adik yang hidup di rumah-rumah sempit namun semangat meraih cita-cita, dari sahabat-sahabat yang semangat membantu mereka yang kekurangan, membuat semangatku yang redup kembali menyala. Aku tiba-tiba merasa malu, betapa Allah sangat sayang pada setiap hambaNya? Saat kita membutuhkan sesuatu, maka Allah menyiapkan apa yang kita butuhkan, hanya saja kita sering terlambat menyadari. Sahabat Martabat, sahabat yang tepat di saat yang tepat.

Saturday, August 30, 2008

Sekitarku

Ternyata lingkungan tempat tinggalku asyik juga lho! Soalnya belum lama pindah jadi masih belum familiar banget, bahkan masih suka nyasar :P
Kalau Sabtu-Minggu habis olahraga sepeda, asyik banget sarapan di dekat bunderan trus duduk-duduk di bawah plang ini... hehehe. Nah, kalau sore-sore teduh banget, sambil bawa laptop deh, ngayal ke sana ke mari menikmati semilir angin, asyiknya...

Atau kalau mau jalan-jalan kita bisa pilih alat transfortasi dari becak, ojek, metromini, bis bahkan gethek (perahu). Asyik juga lho, murah meriah sampai jalan raya. Nih, buktinya. Ayo, siapa mau main ke sini, aku ajakin naik perahu...:)


Pokoknya dijamin asyik!




Sunday, August 17, 2008

Sisi Lain Penulis

Seorang temanku penulis bilang : "sisi lain penulis adalah kalah melawan kenangan." Bener gak sih? Aku pikir-pikir dulu deh. Mungkin ada benarnya sih, tetapi ada sisi lain lagi yaitu : "sisi lain penulis adalah menjadikan kenangannya uang!" hahahaha, ini tipe penulis matre kali ya? :))

Semakin gelisah seorang penulis maka semakin banyak karya yang bakal dia tulis. Bener gak, wahai para penulis? Jadi jangan salah kalau kamu melukai hati seorang penulis, itu akan menjadi anugrah buat dia, karena dia akan menulis lebih banyak lagi, huehehehhe dan biasanya tulisannya lebih keren juga lebih kuat. Karena itu juga, seorang penulis selalu curiga kalau didekati sesama penulis : mau nyari ide dari aku, ya? Wahahaha...:))
Agak menggelikan kalau ditanya dan divonis orang :" itu hanya khayalanmu, kan?" atau begini
:" makanya jangan sibuk dengan pikiranmu sendiri, jadinya nyasar-nyasar begini." atau yang ini : "kamu tahu gak Ri, tingkatan paling tinggi seorang penulis adalah kegilaan."
Waduh, serem amat yaaaa...!

Its oke, yang jelas semua manusia mempunyai jalur masing-masing dalam hidupnya yang sudah diatur sama Allah. Dan semua jalur yang siapapun tempuh akan saling melengkapi. Nah! Jadi apapun pilihannya itu bagus, selama kita bertanggung jawab dengan apa yang kita pilih. So? Semua hanya kembali ke masing-masing, itu hanya pilihan :)

Monday, August 11, 2008

Mimpi, Keinginan, Harapan, Realita

Apa sih bedanya mimpi, keinginan dan harapan?
Kalo mimpi itu terjadi saat tidur, keinginan terjadi saat terbangun dan harapan itu lebih mendekati realisasi. Begitu gak kira-kira? Nah, kamu pernah gak memimpikan, menginginkan, mengharapkan sesuatu terlampau besar sehingga energimu habis tanpa memprediksi realita yang bakal terjadi? Kurasa banyak orang-orang seperti ini, aku juga pernah sih. Tapi kalau itu terjadi, cepat-cepatlah menyiapkan diri untuk mengantisipasi yang bakal terjadi. Kalau yang kita mimpikan, inginkan dan harapkan itu terjadi sih oke, tapi kalau nggak kan nyaho' kalau nggak siap-siap mental. Dengan persiapan, recovery kekecewaan jadi lebih cepat dan horeee! Selamat datang hari baru yang lebih menarik!

Aku punya beberapa kisah dari sahabat-sahabatku nih.
Sebut saja R, orangnya cerdas, tipe pemimpin, punya managemen yang bagus, humoris dan punya pendidikan yang bagus. Dia juga suka baca buku, malah buku Alchemisnya masih di aku, wekekeke, jadi inget gini! Oke, kembali ke topik! R cukup menyadari kemampuannya bahwa dia bisa mendapatkan hal yang lebih baik dari pekerjaannya saat itu. Maka ia menaruh harap pada suatu posisi yang menurutnya pantas ia dapatkan. Apalagi di lingkungan kerjanya nggak ada yang berada di atas level dia. Boleh dong menaruh harapan? Tetapi setelah mengikuti tes kenaikan jabatan, dia gagal. Kok bisa orang secharming R, gagal psikotes itu padahal dia merasa bisa mengerjakan semuanya? (Aku yang mengenalnya lama juga melongo). R kembali ke pekerjaannya semula dan menjalani hari-harinya dengan pikiran miskonsepsi sementara jabatan itu tetap kosong. Sampai kemudian, suatu hari R dipanggil dirut. Ngobrol-ngobrol, R di tawari promosi dengan syarat dia bisa memasukkan anak seorang petinggi di situ. Karena menurut dirut, kalau R berhasil mengubah anak petinggi itu menjadi lebih berguna, maka R bisa menghandle anak buahnya. Tibalah waktunya R mengoreksi hasil tes anak petinggi itu. Dan ternyata, dari 10 soal yang dikerjakannya hanya diisi 2 nomor, selebihnya bersih tanpa noda. Dan 2 nomor yang diisi itu, salah semua. R menggambar matahari di kertas hasil tes itu, lengkap hidung, mata dan bibir yang tersenyum kemudian menyerahkan pada HRD. Dan setelah itu R terkenang lagi akan psikotesnya, benarkah psikotes itu gagal? Lalu merenung, kalau toh lolos, apakah dia cocok berada dalam lingkungan yang kotor seperti itu? Apakah dia sanggup melihat hal-hal seperti itu?

Sahabat kedua, sebut saja A. Orangnya luar biasa pinter dan punya semangat maju yang selalu menyala. A sudah melamar ke semua program beasiswa namun selalu gagal. Suatu hari dengan lemas dia menemui seorang teman yang baru menyelesaikan program beasiswanya di Jepang. A mengeluh, kenapa kok susah banget mendapatkan beasiswa padahal sepertinya tidak ada yang kurang dalam semua tes-tes yang dilaluinya. A lupa bahwa dalam segala hal selalu terselip faktor lucky juga selain keberhasilan akademis yang dia miliki.

Dari contoh pengalaman sahabatku tadi, aku jadi mengambil kesimpulan bahwa sekeras apapun kita mengharapkan sesuatu kalau belum waktunya tiba atau belum cocok dengan kondisi kita, maka harapan itu tidak akan terwujut. Tetapi bukan berarti kita tidak berusaha lho! Berusaha adalah proses untuk mencapai hasil. Sedangkan hasilnya adalah yang terbaik untuk kita, gagal atau sukses. Orientasi kita harusnya proses bukan hasil. Karena dalam proses kita belajar banyak hal. Terkadang hasilnya kita malah diarahkan ke suatu tempat yang tidak kita inginkan sama sekali, tetapi itu justru yang terbaik dengan kondisi kita. Jadi kayaknya kita harus belajar menerima sedikit demi sedikit jika harus menghadapi kegagalan sambil merenungi bahwa inilah yang terbaik untuk kita. Dan untuk mimpi berikutnya, ayo mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, menganalisa kemampuan, upgrade kemampuan diri, insya Allah kalau sudah terpenuhi kualifikasinya, rezeki itu pasti datang pada waktunya.
Semangat yuk! Meraih mimpi? Siapa takut? :)

Sunday, August 10, 2008

Jejak Bulan

Jejak bulan di wajahmu mengabur
Meninggalkan buram di kedua matamu
Meski terhalang kaca mata itu
Aku bisa memandangnya

Kini mulai kutepikan siluet wajahmu
Tanpa sisa lagi di pinggir hatiku
Tak banyak yang cukup berharga
Untuk dikenang dan disimpan

Suatu ketika nanti jejak bulan itu akan menghilang
Dan aku akan menertawakan kebodohanku
Merasa kasihan dengan kepengecutanmu
Lalu semuanya berlari
Jejak bulan itu bahkan akan mati
Lihat saja!

Saturday, August 09, 2008

AMNESIA dan PURA-PURA

Pernah gak kamu kepengin amnesia lalu minggat ke suatu tempat yang jauh dan melupakan semua hal yang pernah kamu alami? Mungkin asyik kali ya tiba-tiba amnesia dan jadi manusia baru tanpa beban masa lalu. Tapi apa benar setelah amnesia itu kita tidak akan punya beban masalah. Halah! Namanya juga hidup, selalu saja ada masalah di tiap tikungannya.
Trus pernah gak kamu menyayangi seseorang tetapi kamu mengenakan topeng di depannya? Kamu pura-pura bersikap tidak memerlukannya, tidak membutuhkannya bahkan kalau perlu membuangnya jauh-jauh dari hidupmu? Sementara kalau kamu melihatnya bersama orang lain kamu bakal cemburu luar biasa, marah-marah dan merasa tertindas. Tapi kamu tetap saja egois tidak mau mengakui keberadaannya sekian lama mengisi hari-harimu. Ah, manusia terkadang memang makhluk paling egois yang mementingkan tujuannya sendiri.
Seseorang kepengin amnesia saat menghadapi hal-hal pahit dalam hidupnya, tapi seseorang kepengin merekam semua kenangan manis yang pernah dilampuinya. Seseorang suka berpura-pura untuk menghindari sakit hati yang parah dan tanpa sengaja malah menyakiti orang lain. Seseorang tak mau mengakui membutuhkan orang lain. Seseorang....
Ah, kadang-kadang kita tak menyadari betapa egoisnya kita. Kita hanya pandai menilai orang lain tanpa mau melihat diri kita sendiri.

Saturday, August 02, 2008

TRAUMA

Ia pucat pasi dan gemetar saat melangkah keluar rumah pagi itu. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya sehingga disergap ketakutan yang luar biasa. Siang ini, ia ingin mengunjungi seorang temannya yang sakit, hanya itu tujuannya, tapi apa yang membuatnya begitu ketakutan? Bahkan beberapa kali ia memejamkan mata untuk menghalau kunang-kunang yang memenuhi matanya.

Setelah melawan suara-suara di kepalanya dan ketakutan yang hampir membunuhnya, ia sampai juga di rumah kos temannya. Semua berjalan normal. Anehnya sepulang dari kunjungan itu, ada separuh beban yang terangkat dari kepalanya. Ia merasa dadanya yang selalu terhimpit selama bertahu-tahun membuat rongga secara tiba-tiba hingga ia dapat bernafas lebih nyaman.
Apa yang sebenarnya terjadi? Sampai di rumah ia memeriksa diary tua, merunut kejadian-kejadian silam lalu membuat garis-garis yang saling menghubung satu sama lain. Sudah lama ia melakukan hal itu untuk memecahkan beberapa masalah yang sedang dihadapinya. Dan ia menemukan simpul kejadian yang pernah membuatnya sangat shock, ia mengalami stress aftershock, pura-pura melupakannya dengan kesibukan selama bertahun-tahun tapi ternyata semua trauma itu berjalan di bawah sadarnya.

Trauma dalam bahasa Yunani berarti luka. Luka psikologi yang menggambarkan situasi atau kejadian setelah seseorang mengalami suatu kejadian yang menakutkan, menyedihkan atau mengejutkan. Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda-beda menghadapi suatu kondisi traumatic, tergantung seberapa parah kejadian tersebut. Respon seseorang dalam kondisi ini umumnya ketakutan, tidak berdaya dan merasa ngeri. Juga adanya ingatan yang terus menerus terhadap kejadian yang membuat shock atau mengalami mati rasa terhadap lingkungannya. Cara seseorang menghadapi krisis tersebut, tergantung pada pengalaman dan sejarah masa lalu masing-masing. Contoh kasus di atas, ia berhasil mengurangi traumanya dengan mendatangi sumber trauma. Namun untuk peristiwa traumatic yang sangat menyakitkan ada baiknya menghubungi ahli untuk mendapatkan terapi penyembuhan.

Semua hal yang menimpa kita terjadi atas kehendak Allah, semoga kita (bisa terus belajar) selalu bersabar saat tertimpa musibah dan selalu bersyukur saat mendapatkan nikmat. Hanya Allah satu-satunya dzat yang tidak akan mengingkari janji, tidak berbohong dan tidak berkhianat. Maka hanya pada Allah-lah tempat menggantungkan harapan, bukan makhluk, bukan yang lain.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
[Al-Baqarah : 286].

Saturday, July 19, 2008

DARI SEBUAH LAUNCHING


Setelah lumayan lama nggak ke TIM, akhirnya ke TIM lagi, hehehe.
Dua orang sahabat sedang launching buku kumpulan cerpennya di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Setelah janjian sama best friend di Bakoel Coffie dan menikmati suasana Jakarta tempo dulu di kafe itu kami langsung cabut ke TIM. Wuah rame juga tuh meski aku datang lumayan telat gara-gara macet dan macet. Asyik juga nyimak diskusi bareng kritikus sastra Maman S.Mahayana dan Helvi Tiana Rosa. Selamat deh buat Wa Ode Wulan Ratna dan Noor H.Dee. Sukses terus ya!

Monday, June 09, 2008

MENUTUP SEBUAH BUKU

Aku memandang jemu buku di tanganku, lalu kututup perlahan. Namun, penasaran menghantuiku lagi. Aku membuka buku itu lagi. Membaca-baca lagi. Tapi tetap saja halaman demi halaman itu tidak memberiku sesuatu kecuali kisah traumatis yang berkembang menjadi paranoid. Dan semakin lama aku membaca buku itu aku hanya akan tertular paranoid sang tokoh yang menjalar pelan-pelan melalui rangkaian kata-kata yang masuk ke otakku.
Lalu, aku benar-benar memutuskan untuk menutup buku itu. Tidak melanjutkan membaca, bahkan kalau perlu membuangnya ke tempat sampah sekalian. Mungkin saja pemulung lebih memerlukan buku itu ketimbang aku.

“Terkadang, kita harus membaca buku yang buruk untuk mengetahui buku yang bagus,” kata seorang lelaki yang tiba-tiba menghampiri bangku taman tempatku duduk membaca buku.
Aku tersenyum sedikit. “Aku menghargai semua buku, apapun bentuknya. Namun tokoh dalam buku ini menularkan traumatisnya padaku. Lebih baik aku menutupnya sebelum makin parah.”
“Begitukah?” Laki-laki itu balas tersenyum, meletakkan ranselnya di bangku. Rambutnya yang semi gondrong bergerai tertiup angin. Matanya menatapku lembut dari balik kacamata minus. “Mungkin tokoh dalam buku itu hanya memintamu mengerti bahwa apa yang dia alami menyakitkan. Dan bukankah sebuah buku dikatakan berhasil jika dapat mempengaruhi pembaca?”

Aku mengangkat bahu. “Mungkin saja, tapi tergantung pembacanya. Aku bukan pembaca yang gampang dipengaruhi. Aku membaca sambil berpikir.”
“Aku percaya. Aku mengenalmu begitu lama, juga buku-buku yang kamu baca. Jadi keputusanmu sudah bulat tidak melanjutkan buku itu?”
“Ya. Atau kau mau membacanya?” tawarku.
Laki-laki itu tertawa. “Aku tak akan membaca buku yang sudah kuketahui isinya.”

Aku bangkit dari kursi taman, menghampiri tempat sampah. Tanpa berpikir lagi, kulempar buku bercover hijau itu ke dalam tong sampah. Kulihat lelaki itu terperangah. Tetapi aku tersenyum padanya.
“Aku ingin membaca buku yang lain, yang memberiku pencerahan hidup. Bukan buku yang tidak jujur pada pembacanya dan hanya bermain kata-kata,” kataku.
Laki-laki itu mengangguk-angguk mengerti.

“Setelah satu buku ditutup, maka halaman buku yang lain menanti untuk dibuka. Selalu begitu, bukan?”

Sunday, June 01, 2008

Apa cita-citamu?

Hari yang benar-benar amazing!
Setelah 4 tahun berteman lewat telepon dan internet akhirnya saya membuat janji ketemu Mel. Uhg, senangnya! Gimana nggak? Orang ini sepertinya agak susah ditemui karena begitu sibuknya hilir mudik ke manca negara.
Di sebuah mall, saya melihat senyum Mel untuk pertama kali (selain di foto-fotonya tentu saja) dan nggak tahu kenapa, saya merasa langsung nyaman. Mel mengenalkanku pada Erol (pemuda Aussie yang menyukai aktivitas-aktivitas sosial) lalu kami meluncur ke markas Martabat di Tambora bersama dua teman yang lainnya.
Bertemu dengan adik-adik di Tambora yang semangat meski berada dalam kehidupan yang serba kekurangan membuat hatiku berembun. Juga ketika keliling kawasan Tambora bersama Erol, Laura dan Yani, saya merasa betapa tidak bersyukurnya saya selama ini. Menurut survey, Tambora merupakan kawasan terpadat seasia Tenggara.

Namun dari semua itu, ada satu hal yang membuatku benar-benar tertonjok. Saat forum diskusi, seorang adik Martabat bertanya pada Erol : “apa cita-citamu, Erol?” Pemuda Aussie yang lembut dan sopan ini menjawab : “saya ingin jadi muslim yang baik.”

Sebagian orang memiliki cita-cita dan menyebutkannya ketika masih kecil : ingin jadi dokter, insinyur, aktor, guru dan lain-lain tetapi jarang sekali aku mendengar seorang Islam yang kukenal mengucapkan melalui kata-kata di depan umum bahwa cita-citanya ingin menjadi seorang muslim yang baik (maaf kalau mungkin saya yang kurang gaul dalam mendengar cita-cita semua orang). Tetapi kata-kata Erol membuatku banyak merenung, juga doanya diakhir pertemuan, “semoga kita akan berkumpul lagi seperti ini di surga nanti.” Subhanallah!

(Terima kasih Mel, telah membawa saya menemukan pencerahan-pencerahan hari ini)

Saturday, May 24, 2008

EUFORIA PENERBIT & KREATIVITAS PENULIS

Dalam sebuah percakapan melalui Yahoo Messenger, saya menawarkan novel misteri thriller yang baru saja saya rampungkan. Tetapi rekan saya yang kebetulan bekerja sebagai manager sebuah penerbit besar itu mengatakan, “Sekarang yang sedang laku novel-novel romantis bersetting Timur Tengah. Kamu bikin saja novel semodel Ayat-Ayat Cinta, pasti bisa langsung kami terbitkan. Sekarang pasar sedang menginginkan itu.” Saya tercenung mendengar jawaban rekan saya itu.

Demam novel ‘Ayat-Ayat Cinta’ telah mendorong penerbit untuk bereuforia menerbitkan buku-buku romantis religius bersetting Timur Tengah. Judul dengan kata belakang cinta mulai bermunculan, bahkan nama pengarangnya pun mirip dengan nama pengarang Ayat-Ayat Cinta. Beberapa penulis menggunakan kesempatan euphoria ini untuk menerbitkan karyanya, namun beberapa penulis lain menolak.

Dalam sebuah diskusi antara penerbit dan penulis, saya terpesona oleh kritik seorang penulis kepada penerbit. Penulis yang juga seorang dosen ini berharap euphoria pasar terhadap sebuah karya tidak lantas membuat penerbit mendikte penulis untuk membuat karya-karya yang akan menjadi epigon. Itu sama artinya membunuh kreativitas penulis-penulis yang ada. Karena setiap penulis memiliki ke-khas-an karya maka seorang penulis bisa melahirkan karya yang dahsyat dengan keunikan diri penulis masing-masing.

Namun perlu diingat bahwa penerbit adalah sebuah usaha bisnis yang bisa hidup dari pasar. Jadi pasar sangat menentukan karya apa yang sebaiknya diterbitkan oleh penerbit untuk menyangga bisnis penerbitan itu tetap hidup. Hal ini kemudian menjadi dilematis karena hubungan antara penulis dan penerbit yang seharusnya menjadi simbiosis mutualisme kemudian menjadi bumerang bagi penulis karena karya-karya mereka yang melawan pasar akan tertunda penerbitannya atau bahkan tak akan terbit sama sekali.

Nah, kalau sudah begini, menurut saya kembali ke diri masing-masing penulis. Kalau memang mampu menulis dengan kualitas yang bagus dan disukai pasar, kenapa tidak dicoba? Seperti kata Remi Silado dalam sebuah wawancara, “karya sastra masa kini harus berani teruji pasar.” Namun jika tulisan itu hanya mengekor tulisan terdahulu agar laku atau terbit, sementara penulis tidak bisa mengejar kualitas, maka hanya akan menjadi sebuah pembunuhan kreativitas penulis. Sekali lagi, semua adalah pilihan dan penulis berhak memilih mana yang ingin mereka tulis. So? Mau pilih mana?

Monday, May 19, 2008

“Kapan Kamu Merasa Mulai Dewasa?”

Suatu malam saat kami duduk berhadapan di foodcourt Senayan City, tiba-tiba dia bertanya padaku, “kapan kamu merasa mulai dewasa?”

Aku tercenung sesaat dengan pertanyaan itu. Sebelumnya tidak ada yang bertanya seperti itu padaku dan aku juga tidak pernah memikirkannya. Maka dengan pikiran seorang ‘pengkhayal’ (hahaha), aku menjawab berbelit, “aku tidak bisa menasbihkan kapan diriku merasa mulai dewasa, karena bisa jadi dalam hal tertentu aku dewasa tetapi dalam hal lain aku tidak dewasa. Juga terkadang dalam pandangan temanku dewasa ternyata dalam pandangan keluargaku belum dewasa. Orang lain yang menilai aku sudah dewasa atau belum, bukan diriku sendiri.” Setelah mengucapkan itu, sebenarnya batinku terkikik geli, ngeles banget! Apalagi saat dia mengangguk-angguk bingung, hihihi. Emang enak ngomong sama pengkhayal?

Hari-hari berikutnya, ajaib banget, pertanyaan itu terngiang-ngiang di telingaku. Dan browsinglah aku dengan guide kata dewasa. Hm, dari sebuah artikel, ternyata tingkat kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan usianya. Mereka yang lebih tua belum tentu lebih dewasa. Ada beberapa aspek yang bisa dijadikan ukuran untuk menilai tingkat kedewasaan seseorang.

Intelektual
Dewasa dilihat dari kemampuan kita membentuk pendirian. Artinya, kita punya pendirian atau prinsip yang jelas sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh situasi yang menuntut kita untuk bersikap.

Emosional
Kemampuan menerima emosi dan menggunakannya secara wajar. Artinya, emosi apapun yang sedang kita alami, kita tetap bisa menguasai dan mengelolanya dengan baik.

Sosial
Dari segi social tampak dari keterbukaan terhadap orang lain. Sanggup membuat persahabatan. Tidak bergantung pada siapa pun, tapi tidak berarti kita tidak butuh orang lain.

Moral
Kesetiaan kita pada asas-asas moral dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya, semakin dewasa kita semakin mementingkan orang lain dari pada diri sendiri.

Spiritual
Berkeyakinan tidak sempit. Mampu bergaul dan membina hubungan baik dengan orang-orang yang keyakinannya berbeda dari diri kita. Kita mampu menghargai orang lain tanpa batas-batas agama, ras, suku atau golongan

Kedewasaan adalah proses perkembangan kepribadian. Maka kita tidak bisa mendapatkannya dengan instant. Karena itu perlu terus belajar dan berlatih terus menerus.
Nah, kalau sudah ketemu jawabannya sekarang aku jadi bertanya pada diriku sendiri, apa aku sudah dewasa???

Sunday, May 18, 2008

“Half Light”

Selain film epik klasik dan misteri thriller, aku sangat suka film yang bercerita tentang kehidupan seorang penulis. Kebetulan yang menyenangkan, hari ini seseorang membawakan ‘HALF LIGHT’, film tahun 2006-an (kalo nggak salah) dibintangi Demi More dan juga berkisah tentang seorang novelis.

Dikisahkan, Rachel seorang penulis novel misteri yang depresi setelah kematian putranya tenggelam di danau. Rachel kemudian memutuskan menyepi di sebuah cottage pinggir laut untuk menyelesaikan novel misterinya. Di tempat terpencil yang luar biasa indah ini (hiks, aku jadi membayangkan tinggal di sana dan duduk di tempat Rachel mengetik novelnya, di dekat jendela menghadap laut, merasakan angin membelai wajah) Rachel bertemu dengan Angus McCould dan mengalirlah kisah kehidupan Rachel yang dibayangi imajinasi novel-novelnya. Rachel seperti hidup di dua dunia, antara imajinasi dan kenyataan sehingga orang-orang menganggapnya tak waras. Ternyata semua misteri itu adalah kejahatan yang dirancang suami Rachel dan sahabat Rachel untuk menguasai kekayaan Rachel.

Menonton film-film tentang kehidupan seorang penulis selalu memberi inspirasi tersendiri (buatku khususnya, hehe). Aku sering menemukan kata-kata yang membuatku tersenyum sendiri sekaligus merenung. Kayak kata-kata dalam film HALF LIGHT saat Rachel bicara dengan Angus. “Kenapa memilih hidup dalam kesendirian menulis?” Rachel menjawab, “Karena hanya dengan menulis fungsi hidup saya benar-benar berjalan.” Terus kata-kata dalam film FINDING FORESTER, film ini bercerita tentang penulis yang menyepi juga, pemainnya Sean Connery ngomong begini sama murid menulis satu-satunya, “pertama tulis konsep tulisanmu dengan hatimu kemudian tulis kembali dengan kepalamu. Faktor pertama dalam menulis adalah menulis bukan berpikir.” Film tentang penulis lainnya yang kusukai adalah SECRET WINDOW, bintangnya Johnny Deep dan diangkat dari novelnya Stephen King. Terus… BRIDGE TO TERABITHIA, THE WHOLE WIDE WORLD, FULL HOUSE (drama korea, tapi kisah penulisnya hanya lewat saja, lebih banyak kisah cintanya) dan masih banyak lagi pastinya.

Terkadang sebuah film dapat mengalirkan semangat tersendiri pada penontonnya. So? Pilihlah film yang mengalirkan energi positip, usai menontonnya. Bukankah inspirasi juga kita perlukan untuk meneruskan perjalanan panjang kehidupan?