Monday, June 09, 2008

MENUTUP SEBUAH BUKU

Aku memandang jemu buku di tanganku, lalu kututup perlahan. Namun, penasaran menghantuiku lagi. Aku membuka buku itu lagi. Membaca-baca lagi. Tapi tetap saja halaman demi halaman itu tidak memberiku sesuatu kecuali kisah traumatis yang berkembang menjadi paranoid. Dan semakin lama aku membaca buku itu aku hanya akan tertular paranoid sang tokoh yang menjalar pelan-pelan melalui rangkaian kata-kata yang masuk ke otakku.
Lalu, aku benar-benar memutuskan untuk menutup buku itu. Tidak melanjutkan membaca, bahkan kalau perlu membuangnya ke tempat sampah sekalian. Mungkin saja pemulung lebih memerlukan buku itu ketimbang aku.

“Terkadang, kita harus membaca buku yang buruk untuk mengetahui buku yang bagus,” kata seorang lelaki yang tiba-tiba menghampiri bangku taman tempatku duduk membaca buku.
Aku tersenyum sedikit. “Aku menghargai semua buku, apapun bentuknya. Namun tokoh dalam buku ini menularkan traumatisnya padaku. Lebih baik aku menutupnya sebelum makin parah.”
“Begitukah?” Laki-laki itu balas tersenyum, meletakkan ranselnya di bangku. Rambutnya yang semi gondrong bergerai tertiup angin. Matanya menatapku lembut dari balik kacamata minus. “Mungkin tokoh dalam buku itu hanya memintamu mengerti bahwa apa yang dia alami menyakitkan. Dan bukankah sebuah buku dikatakan berhasil jika dapat mempengaruhi pembaca?”

Aku mengangkat bahu. “Mungkin saja, tapi tergantung pembacanya. Aku bukan pembaca yang gampang dipengaruhi. Aku membaca sambil berpikir.”
“Aku percaya. Aku mengenalmu begitu lama, juga buku-buku yang kamu baca. Jadi keputusanmu sudah bulat tidak melanjutkan buku itu?”
“Ya. Atau kau mau membacanya?” tawarku.
Laki-laki itu tertawa. “Aku tak akan membaca buku yang sudah kuketahui isinya.”

Aku bangkit dari kursi taman, menghampiri tempat sampah. Tanpa berpikir lagi, kulempar buku bercover hijau itu ke dalam tong sampah. Kulihat lelaki itu terperangah. Tetapi aku tersenyum padanya.
“Aku ingin membaca buku yang lain, yang memberiku pencerahan hidup. Bukan buku yang tidak jujur pada pembacanya dan hanya bermain kata-kata,” kataku.
Laki-laki itu mengangguk-angguk mengerti.

“Setelah satu buku ditutup, maka halaman buku yang lain menanti untuk dibuka. Selalu begitu, bukan?”

Sunday, June 01, 2008

Apa cita-citamu?

Hari yang benar-benar amazing!
Setelah 4 tahun berteman lewat telepon dan internet akhirnya saya membuat janji ketemu Mel. Uhg, senangnya! Gimana nggak? Orang ini sepertinya agak susah ditemui karena begitu sibuknya hilir mudik ke manca negara.
Di sebuah mall, saya melihat senyum Mel untuk pertama kali (selain di foto-fotonya tentu saja) dan nggak tahu kenapa, saya merasa langsung nyaman. Mel mengenalkanku pada Erol (pemuda Aussie yang menyukai aktivitas-aktivitas sosial) lalu kami meluncur ke markas Martabat di Tambora bersama dua teman yang lainnya.
Bertemu dengan adik-adik di Tambora yang semangat meski berada dalam kehidupan yang serba kekurangan membuat hatiku berembun. Juga ketika keliling kawasan Tambora bersama Erol, Laura dan Yani, saya merasa betapa tidak bersyukurnya saya selama ini. Menurut survey, Tambora merupakan kawasan terpadat seasia Tenggara.

Namun dari semua itu, ada satu hal yang membuatku benar-benar tertonjok. Saat forum diskusi, seorang adik Martabat bertanya pada Erol : “apa cita-citamu, Erol?” Pemuda Aussie yang lembut dan sopan ini menjawab : “saya ingin jadi muslim yang baik.”

Sebagian orang memiliki cita-cita dan menyebutkannya ketika masih kecil : ingin jadi dokter, insinyur, aktor, guru dan lain-lain tetapi jarang sekali aku mendengar seorang Islam yang kukenal mengucapkan melalui kata-kata di depan umum bahwa cita-citanya ingin menjadi seorang muslim yang baik (maaf kalau mungkin saya yang kurang gaul dalam mendengar cita-cita semua orang). Tetapi kata-kata Erol membuatku banyak merenung, juga doanya diakhir pertemuan, “semoga kita akan berkumpul lagi seperti ini di surga nanti.” Subhanallah!

(Terima kasih Mel, telah membawa saya menemukan pencerahan-pencerahan hari ini)

Saturday, May 24, 2008

EUFORIA PENERBIT & KREATIVITAS PENULIS

Dalam sebuah percakapan melalui Yahoo Messenger, saya menawarkan novel misteri thriller yang baru saja saya rampungkan. Tetapi rekan saya yang kebetulan bekerja sebagai manager sebuah penerbit besar itu mengatakan, “Sekarang yang sedang laku novel-novel romantis bersetting Timur Tengah. Kamu bikin saja novel semodel Ayat-Ayat Cinta, pasti bisa langsung kami terbitkan. Sekarang pasar sedang menginginkan itu.” Saya tercenung mendengar jawaban rekan saya itu.

Demam novel ‘Ayat-Ayat Cinta’ telah mendorong penerbit untuk bereuforia menerbitkan buku-buku romantis religius bersetting Timur Tengah. Judul dengan kata belakang cinta mulai bermunculan, bahkan nama pengarangnya pun mirip dengan nama pengarang Ayat-Ayat Cinta. Beberapa penulis menggunakan kesempatan euphoria ini untuk menerbitkan karyanya, namun beberapa penulis lain menolak.

Dalam sebuah diskusi antara penerbit dan penulis, saya terpesona oleh kritik seorang penulis kepada penerbit. Penulis yang juga seorang dosen ini berharap euphoria pasar terhadap sebuah karya tidak lantas membuat penerbit mendikte penulis untuk membuat karya-karya yang akan menjadi epigon. Itu sama artinya membunuh kreativitas penulis-penulis yang ada. Karena setiap penulis memiliki ke-khas-an karya maka seorang penulis bisa melahirkan karya yang dahsyat dengan keunikan diri penulis masing-masing.

Namun perlu diingat bahwa penerbit adalah sebuah usaha bisnis yang bisa hidup dari pasar. Jadi pasar sangat menentukan karya apa yang sebaiknya diterbitkan oleh penerbit untuk menyangga bisnis penerbitan itu tetap hidup. Hal ini kemudian menjadi dilematis karena hubungan antara penulis dan penerbit yang seharusnya menjadi simbiosis mutualisme kemudian menjadi bumerang bagi penulis karena karya-karya mereka yang melawan pasar akan tertunda penerbitannya atau bahkan tak akan terbit sama sekali.

Nah, kalau sudah begini, menurut saya kembali ke diri masing-masing penulis. Kalau memang mampu menulis dengan kualitas yang bagus dan disukai pasar, kenapa tidak dicoba? Seperti kata Remi Silado dalam sebuah wawancara, “karya sastra masa kini harus berani teruji pasar.” Namun jika tulisan itu hanya mengekor tulisan terdahulu agar laku atau terbit, sementara penulis tidak bisa mengejar kualitas, maka hanya akan menjadi sebuah pembunuhan kreativitas penulis. Sekali lagi, semua adalah pilihan dan penulis berhak memilih mana yang ingin mereka tulis. So? Mau pilih mana?

Monday, May 19, 2008

“Kapan Kamu Merasa Mulai Dewasa?”

Suatu malam saat kami duduk berhadapan di foodcourt Senayan City, tiba-tiba dia bertanya padaku, “kapan kamu merasa mulai dewasa?”

Aku tercenung sesaat dengan pertanyaan itu. Sebelumnya tidak ada yang bertanya seperti itu padaku dan aku juga tidak pernah memikirkannya. Maka dengan pikiran seorang ‘pengkhayal’ (hahaha), aku menjawab berbelit, “aku tidak bisa menasbihkan kapan diriku merasa mulai dewasa, karena bisa jadi dalam hal tertentu aku dewasa tetapi dalam hal lain aku tidak dewasa. Juga terkadang dalam pandangan temanku dewasa ternyata dalam pandangan keluargaku belum dewasa. Orang lain yang menilai aku sudah dewasa atau belum, bukan diriku sendiri.” Setelah mengucapkan itu, sebenarnya batinku terkikik geli, ngeles banget! Apalagi saat dia mengangguk-angguk bingung, hihihi. Emang enak ngomong sama pengkhayal?

Hari-hari berikutnya, ajaib banget, pertanyaan itu terngiang-ngiang di telingaku. Dan browsinglah aku dengan guide kata dewasa. Hm, dari sebuah artikel, ternyata tingkat kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan usianya. Mereka yang lebih tua belum tentu lebih dewasa. Ada beberapa aspek yang bisa dijadikan ukuran untuk menilai tingkat kedewasaan seseorang.

Intelektual
Dewasa dilihat dari kemampuan kita membentuk pendirian. Artinya, kita punya pendirian atau prinsip yang jelas sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh situasi yang menuntut kita untuk bersikap.

Emosional
Kemampuan menerima emosi dan menggunakannya secara wajar. Artinya, emosi apapun yang sedang kita alami, kita tetap bisa menguasai dan mengelolanya dengan baik.

Sosial
Dari segi social tampak dari keterbukaan terhadap orang lain. Sanggup membuat persahabatan. Tidak bergantung pada siapa pun, tapi tidak berarti kita tidak butuh orang lain.

Moral
Kesetiaan kita pada asas-asas moral dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya, semakin dewasa kita semakin mementingkan orang lain dari pada diri sendiri.

Spiritual
Berkeyakinan tidak sempit. Mampu bergaul dan membina hubungan baik dengan orang-orang yang keyakinannya berbeda dari diri kita. Kita mampu menghargai orang lain tanpa batas-batas agama, ras, suku atau golongan

Kedewasaan adalah proses perkembangan kepribadian. Maka kita tidak bisa mendapatkannya dengan instant. Karena itu perlu terus belajar dan berlatih terus menerus.
Nah, kalau sudah ketemu jawabannya sekarang aku jadi bertanya pada diriku sendiri, apa aku sudah dewasa???

Sunday, May 18, 2008

“Half Light”

Selain film epik klasik dan misteri thriller, aku sangat suka film yang bercerita tentang kehidupan seorang penulis. Kebetulan yang menyenangkan, hari ini seseorang membawakan ‘HALF LIGHT’, film tahun 2006-an (kalo nggak salah) dibintangi Demi More dan juga berkisah tentang seorang novelis.

Dikisahkan, Rachel seorang penulis novel misteri yang depresi setelah kematian putranya tenggelam di danau. Rachel kemudian memutuskan menyepi di sebuah cottage pinggir laut untuk menyelesaikan novel misterinya. Di tempat terpencil yang luar biasa indah ini (hiks, aku jadi membayangkan tinggal di sana dan duduk di tempat Rachel mengetik novelnya, di dekat jendela menghadap laut, merasakan angin membelai wajah) Rachel bertemu dengan Angus McCould dan mengalirlah kisah kehidupan Rachel yang dibayangi imajinasi novel-novelnya. Rachel seperti hidup di dua dunia, antara imajinasi dan kenyataan sehingga orang-orang menganggapnya tak waras. Ternyata semua misteri itu adalah kejahatan yang dirancang suami Rachel dan sahabat Rachel untuk menguasai kekayaan Rachel.

Menonton film-film tentang kehidupan seorang penulis selalu memberi inspirasi tersendiri (buatku khususnya, hehe). Aku sering menemukan kata-kata yang membuatku tersenyum sendiri sekaligus merenung. Kayak kata-kata dalam film HALF LIGHT saat Rachel bicara dengan Angus. “Kenapa memilih hidup dalam kesendirian menulis?” Rachel menjawab, “Karena hanya dengan menulis fungsi hidup saya benar-benar berjalan.” Terus kata-kata dalam film FINDING FORESTER, film ini bercerita tentang penulis yang menyepi juga, pemainnya Sean Connery ngomong begini sama murid menulis satu-satunya, “pertama tulis konsep tulisanmu dengan hatimu kemudian tulis kembali dengan kepalamu. Faktor pertama dalam menulis adalah menulis bukan berpikir.” Film tentang penulis lainnya yang kusukai adalah SECRET WINDOW, bintangnya Johnny Deep dan diangkat dari novelnya Stephen King. Terus… BRIDGE TO TERABITHIA, THE WHOLE WIDE WORLD, FULL HOUSE (drama korea, tapi kisah penulisnya hanya lewat saja, lebih banyak kisah cintanya) dan masih banyak lagi pastinya.

Terkadang sebuah film dapat mengalirkan semangat tersendiri pada penontonnya. So? Pilihlah film yang mengalirkan energi positip, usai menontonnya. Bukankah inspirasi juga kita perlukan untuk meneruskan perjalanan panjang kehidupan?

Saturday, May 17, 2008

Final Uber Cup 2008


Sabtu, 17 Mei saya Nonton Final Uber Cup 2008 di Istora. Wah, seru juga sih melihat gegap gempita suporter Indonesia yang penuh semangat. Rasanya sudah lama banget, gak merasakan nasionalisme yang kayak gini, jadi agak merinding. Dan meski semuanya kalah, tapi suporter tetap semangat dan cinta sama pemain kesayangannya. Saya suka banget lihat permainan ganda putri Lilyana Natsir dan Vita Marissa. Mereka seru habis mainnya dan sempat menang di set kedua. Halah! Saya udah kayak pembawa acara olahraga aja ya.... :D
Meski tetap gak sesemangat zaman dulu, tapi bravo untuk tim Uber Indonesia!

Thursday, May 15, 2008

AIR YANG TUMPAH

Pagi ini terasa rusuh. Aku baru saja agak sembuh setelah terkapar sakit selama kurang lebih 15 hari dan harus mengejar deadline menulis script (baca: bisa-bisa 2x24 jam, aku tak akan punya waktu tidur). Aku sudah bersiap-siap menulis ketika tanganku menyenggol gelas berisi air putih. Air itu tumpah ke atas laptop dan membasahi sebagian meja. Aku panik. Akankah laptopku rusak? Bagaimana aku akan memenuhi target deadline jika laptopku colaps? Lalu timbul kegusaran yang kemudian membuat semua tindakan makin susah dikendalikan. Kakiku menyandung kabel lalu laptop itu hampir terseret jatuh dari meja. Jantungnya berdetak lebih kencang dan kepalanya migren dadakan. Aku berusaha mengembalikan laptop ke meja agar tak jatuh. Memandangi genangan air yang menetes dari meja, laptop yang basah dan lantai yang licin dadaku yang sakit hampir setengah bulan ini terasa lebih menyakitkan.

Terkadang, kita dihadapkan pada ketakutan-ketakutan sebelum peristiwa terjadi sehingga kita kalah sebelum berperang. Seperti kejadian yang ku alami pagi ini, begitu takutnya aku pada colapsnya laptopku (padahal belum terbukti) sehingga menyeretku pada kemarahan dan kesakitan. Mengutuk segala sesuatu yang ada di sekelilingku dan menyesali diri. Sampai kemudian emosi itu membunuh produktivitasku karena kepala yang migren membuat konsentrasiku buyar dan deadline lebih amburadul.

Sementara kalau kita mau merunut sebuah kejadian dan memahami dengan kepala dingin kita akan sampai pada pemahaman-pemahaman yang membuat kita lebih arif menyikapi sebuah peristiwa. Pernahkah kita mengambil jeda sejenak setelah kejadian tragis menimpa? Menghela nafas dan tidak menuruti aliran darah yang menderas ke kepala? Pernahkah kita berpikir kenapa hal itu menimpa kita? Gelas itu jelas sudah kulihat di sana, tetapi tetap saja tanganku menyenggolnya. Karena aku tidak berhati-hati? Karena refleks gerakan tubuhku yang panik dikejar deadline atau karena apa? Jangan-jangan tumpahan air itu isyarat agar aku menghentikan sejenak kepanikanku tentang deadline, mengingatkan aku agar beristirahat selagi sakit dan peduli pada kesehatanku.

Dan pernahkah kita merenungi sejenak kata-kata atau perbuatan seseorang yang menyinggung perasaan kita? Jika kita mau merenung setelah emosi mereda, kita akan mendapati jawaban jujur dari hati kita. Mungkin, sebagian kata-kata yang diucapkan orang itu adalah kebenaran tentang diri kita, hanya kita terlalu naïf untuk mengakuinya. Atau, pernahkah kita merenungi kenapa kaki kita yang terperosok lubang, sementara begitu banyak orang melewati jalan berlubang itu? Mungkinkah kita tengah diingatkan dari dosa-dosa yang pernah kita lakukan saat kita melangkah ke suatu tempat? Banyak hal yang bisa kita renungkan, kita ambil maknanya setelah kepala menjadi lebih dingin.

Hidup adalah rangkaian kejadian berhikmah yang seharusnya membuat kita belajar menjadi lebih baik dari hari ke hari. Teman, mari kita belajar menggali hikmah dari setiap kejadian, agar kita tak selalu mengutuki diri dan mampu mensyukuri hidup. (untuk diriku yang sendiri yang tak pandai menggali hikmah dari setiap kejadian).

Monday, April 28, 2008

The Forbidden Kingdom

Wow, aku suka banget bisa nonton film ini bareng sahabatku yang bela-belain nonton 2x demi menemaniku, hehehehe! The Forbidden Kingdom menawarkan gambar-gambar yang indah, cerita yang menghibur dan manis. Apalagi kelucuan-kelucuannya natural dan nggak dibuat-buat. Ya iyalah! Nggak usah komentar deh kalau soal itu. Hampir mirip sama The Last Samurai (mungkin karena penulis skenarionya orang yang sama : John Fusco) dan juga ceritanya agak senada dengan The Lord of The Ring. Tapi tetep aja horeee! Keren habis!

Sunday, April 27, 2008

Indonesia Membaca!



Datang ke World Book Day 2008 dan ketemu teman-teman lama membuat hidup serasa lebih hidup! Yaelah, kayak iklan aja sih? Tapi bener deh, rasanya sudah lama banget nggak ketemu teman-teman komunitas trus ngobrolin buku, tulisan dan haha hihi tentang hal-hal yang lucu sambil menikmati nasi ulam jaya yang enak. Hm... betapa indahnya hidup...ceila...:)

World Book Day selalu menyuguhkan acara-acara menarik untuk pecinta buku. Workshop penulisan, jumpa pengarang, pameran komunitas dan lain-lain. Meski terlambat saya sempat mengikuti acara off air-nya Kick Andy. Wah, lumayan seru dan menggugah semangat juga acara itu. Di beranda komunitas saya bertemu saudara dari Baduy yang juga ikut pameran. Lengkap sudah rasanya hari itu kegembiraan saya. Ternyata memang di sinilah dunia saya. I love it!

Friday, April 25, 2008

Cinta

Apakah kau pernah merasakan keindahan cinta? Kau seperti mengawang, menghirup sesuatu yang menyenangkan dan dunia menjadi lebih nyaman untuk ditinggali. Aku punya cerita tentang cinta.

Delapan tahun yang lalu, wanita berpendidikan SD itu berusia 38 tahun. Sosoknya sedang, tawanya riang dan pembawaannya selalu senang. Klop dengan suaminya yang suka melucu. Wanita itu ibu rumah tangga dan suaminya bekerja memeriksa rel kereta api setiap malam hingga subuh. Anaknya tiga orang. Sejak kos di rumahnya, aku menjadi bagian dari keluarganya. Empat tahun aku melewati suka duka bersama keluarga ini. Setelah tidak lagi tinggal bersamanya, aku selalu menyempatkan singgah jika kebetulan ada keperluan ke kota itu. Mungkin tepatnya bukan singgah, tetapi pulang. Bapak, begitu aku memanggil suaminya, akan menjemputku dan memaksaku menginap di rumahnya. Malamnya, aku, Ibu dan dua anak gadisnya akan menggelar kasur di lantai dan tidur bersama-sama setelah makan dan lelah bercerita. Saat seperti itu, aku seakan pulang ke rumah setelah lama di rantau.

Waktu membawaku bertemu cinta yang lain. Tiga tahun yang lalu, mantan wanita karier itu berusia 65 tahun. Meskipun sudah nenek-nenek, sosoknya ideal, senyumnya lembut dan pembawaannya penuh tata karma kraton. Maklumlah, ada silsilah darah biru. Ibu, begitu aku memanggilnya, selalu mengingatkanku pada ibu kandungku. Kami melewati hari dengan banyak berbagi suka duka. Setiap tindakannya adalah pembelajaran bagiku. Aku mengaguminya. Peluk dan ciumnya selalu mengantarkan kepergianku traveling ke beberapa tempat. Air matanya menemani kesedihan-kesedihanku menghadapi masalah. Nasehat-nasehat dan supportnya membuatku bertahan dari goncangan. Ponselku berdering-dering jika kebetulan aku lupa berpamitan pergi lewat sehari. Putrinya menjadi kakak bagiku. Malam-malam ketika menikmati sinar bulan di balkon, aku sering merenung. Aku merasa dalam dekapan keluarga meskipun hidup di rantau. Tak kekurangan cinta, kasih dan sayang.

Jika saja kau mau memungutnya, begitu banyak cinta di sekeliling kita. Hanya saja kita lebih sering menutup mata, lebih suka membuka permusuhan untuk hal-hal sepele dan memasang gengsi kelewat tinggi untuk menerima ketulusan cinta. Namun jangan harap kita akan mendapatkan cinta tanpa belajar mencintai orang lain. Dan pernahkah kau membayangkan betapa menakutkan hidup tanpa cinta?

Thursday, April 24, 2008

Kenanglah

Kenanglah aku
Di saat aku telah pergi
Jauh ke suatu negeri yang sunyi
Di saat kau tak dapat lagi meraih tanganku
Di saat aku menoleh tapi tak mungkin kembali

Kenanglah aku
Di saat aku tak bisa lagi dari hari ke hari
Mengungkapkan padaku masa depan yang kau rencanakan
Kau mengerti, kau hanya dapat mengenangku
Sudah terlambat untuk menyesal atau berharap

Namun andaikan kau terpaksa sesaat melupakanku
Dan kemudian kembali terkenang padaku
Jangan bersedih
Karena Jika kegelapan serta rasa dikhianati itu
Meninggalkan sesuatu yang pernah berkecamuk di hatiku
Lebih baik kau lupakan saja sambil tersenyum
Daripada kau terkenang dan merasa sedih

(dari sobekan kertas bungkus)

Monday, April 21, 2008

LA TAHZAN for broken hearted MUSLIMAH


Mengapa harus kata jatuh yang berada di depan kata cinta?
Apakah cinta memang selalu identik dengan musibah dan malapetaka?
Mengapa harus kata mati yang berada di belakang kata cinta?
Apakah cinta memang selalu menghadirkan segumpal lara dan setetes air mata?
Sejumlah kisah, sejumlah peristiwa, lahir dan tumbuh bersama cinta.
Tak jarang terdapat luka di setiap akhir cerita, ya, luka yang teramat pedih.
Luka yang beakhir dengan tangisan pilu dan kesedihan abadi.
Atas dasar itulah buku ini hadir. Di persembahkan untuk semua muslimah yang sedang bersentuhan dengankesedihan akan cinta. Selalu ada jalan terbentang, selalu ada kemungkinan untuk menang. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Muslimah.


La Tahzan....LA TAHZAN for broken hearted MUSLIMAH

Penyusun: Asma Nadia
Kontributor Penulis:
- Asma Nadia- Dyotami Febriani- Intan Arifin- Dian Ibung- Dewi Rieka- Me- Amelia - Nasanti- Ummu Alif- Tary- Leyla Imtichanah- Mariskova- Novi Khansa- Ida Az- Esti Handayani

Sunday, April 13, 2008

Tragedi dan Komedi

Sore itu ia mengajakku bertemu di sebuah kafe favoritnya. Bibirnya seperti menahan tawa yang siap meledak hingga wajahnya terlihat aneh. Ia lalu memesankan coklat panas untukku dan sepiring kecil muppin. Aku menebak ada curhatan menarik sehingga ia meluangkan waktu untuk mengundangku.

“Loe tahu nggak bedanya tragedy sama komedi?” Ia memulai.
Aku meletakkan tas di samping tempatku duduk lalu menatapnya. “Tragedy selalu berbau air mata, kalo komedi selalu berbau kegembiraan? Bener nggak?”
“Benar, tapi aku belajar bahwa tragedy yang terjadi terus menerus kadang menjadi komedi yang cukup menghibur,” katanya.
Lalu tawanya meledak. Beberapa orang di kafe itu menoleh ke meja kami. Aku menyodok lengannya pelan, memberinya isyarat agar mengontrol tawanya. Ia langsung mengerem tawanya saat pelayan membawa pesanan kami. Baru setelah pelayan pergi dia meneruskan tawanya sambil menekap mulutnya.

“Loe nggak lagi saraf ‘kan?” Aku membuat tanda jari miring di dahiku.
Dia berusaha menghentikan tawanya. “Gue patah hati lagi.”
“Trus di mana lucunya?” tanyaku heran. Aku mengurungkan mengiris muppin.
Dia tertawa lagi. “Sampai mana loe ngikuti kisah cinta gue?”
“Gue rasa semuanya, tapi sorry, gue nggak ingat bener.”
“Pertama, gagal karena masalah yang nggak jelas trus waktu dia balik lagi gue udah ilfell. Kedua, gagal karena dia dijodohin, ketiga gagal karena dia menipuku….nah dari sini nih mulai menarik…loe simak ya?”
Aku menghela nafas. Apa yang menarik dari sebuah kegagalan yang menyakitkan?
“Setelah penipuan ini, gue ketemu dua orang berikutnya yang juga menipuku.”
“Yang edisi terakhir, gimana ceritanya?”
“Setelah dekat beberapa bulan tiba-tiba aku pengen tahu tujuan dia menjalin hubungan denganku. Eh dia malah membalikkan pertanyaan begini, ‘kalo begitu tujuanmu berteman denganku apa?’ Hm, ternyata gue cuma teman buat dia.”
Kali ini aku yang tertawa. “Harusnya loe jawab, tujuan berteman adalah menambah teman. Bener nggak, sih?”
“Oh iya, bener! Kenapa nggak gue jawab begitu? Genius juga loe!” Tawanya meledak lagi. “Jadi dari semua kisah cinta yang terus menerus menyakitkan itu, kali ini aku benar-benar merasa geli. Gue udah nggak bisa nangis lagi dan malah merasa betapa lucunya hidup ini! Tau nggak loe? Hampir dua hari setelah itu aku suka ketawa-ketawa sendiri kalau ingat. Dan lebih lucu dengar kata-katamu barusan, tujuan berteman adalah menambah teman. Hahahaha!”

Aku menatap wajahnya. Tak kutemukan kesedihan dalam wajah melankolisnya. Dia benar-benar tertawa dari dalam lubuk hatinya.
“Sekarang gue punya kata-kata baru dalam hidup gue,”lanjutnya. “Aku ingin berdamai dengan kenyataan yang mengajarkan padaku lucunya kebenaran!”
“Good! Terkadang hidup memang perlu hal-hal kayak gitu. Yang pasti loe sudah mengambil langkah, kalo nggak loe nggak akan menemukan jalan apapun.”
Dia tertawa lagi. “Ini yang gue suka dari loe, say. Selalu mendorong orang-orang di sekitarmu untuk survive dan maju! I love you so much!”

Giliran tawaku yang meledak. Kami menikmati sore yang berwarna. Ah, bukankah semua makhluk ditakdirkan bertemu di suatu waktu lalu berpisah di waktu yang lain? Dan sebuah perjalanan panjang selalu bermula dari satu langkah. Ceile…jadi sok filosofis gara-gara habis ketemuan sama orang agak saraf. Ha ha ha!







Friday, April 04, 2008

Filosopi Bunga

Suatu malam seorang teman meneleponku. Awalnya dia pengen ngobrol soal tulis menulis, tetapi kemudian obrolan melebar ke mana-mana sampai kuping terasa panas. Di tengah obrolan tiba-tiba dia bertanya : "apa filosopimu dalam mencari pasangan?"
Aku berpikir sejenak karena ini bukan pertanyaan biasa yang diajukan teman-temanku lainnya. Apa ya? Dengan serampangan aku menjawab bla bla bla. Selesai jawabanku dia mengutarakan jawabannya sendiri, yang membuatku merenung sedemikian lama setelah dia menutup telpun.

"Saya mengibaratkan memasuki sebuah taman bunga, " kata temanku itu. "Di sana banyak sekali macam bunga. Ada anggrek, mawar, melati, krisan, sedap malam dan lain-lain. Saya memandang satu persatu dan mengakui hampir semua indah. Ketika saya memegang satu, saya tergoda juga untuk memegang yang lainnya. Karena saya berpikir mawar lebih harum ketimbang anggrek, melati lebih mungil dan cantik ketimbang mawar, sedap malam lebih exotis ketimbang krisan meskipun krisan juga sangat menarik dengan warnanya yang menggoda. Sejenak saya terpaku, berpikir. Semua bunga di depan saya indah, mereka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Saya tidak bisa melihat kekurangan satu bunga lalu menutupi kekurangan itu dengan memetik bunga yang lain. Lalu saya memutuskan memetik satu bunga..."
Aku menyela. "Dengan pertimbangan apa?"

"Saya harus memetik satu bunga saja karena saya tidak mau memetik bunga-bunga yang lain tanpa tujuan apalagi jika nanti saya membuangnya. Nah, setelah saya memetik satu bunga itu saya berjanji akan merawatnya dan menyiramnya dengan cinta saya. Saya akan mencintai kekurangan-kekurangannya sambil berusaha mendorong dia untuk membenahi kekurangan-kekurangan itu. Karena saya juga tidak sempurna. Dengan cinta saya yang tulus, saya yakin bunga itu akan menjadi bunga yang mendekati sempurna pada akhirnya. Insya Allah."
So sweet friend, aku menyukai filosopimu...

Sunday, March 30, 2008

A Day With Sygma


Aku sudah berangan ke Bandung minggu-minggu ini, untuk mengunjungi sahabat lama yang merindukanku (astaga, GR banget! :D) tetapi undangan dari penerbit Sygma membulatkan tekad. Ck! Ck! Ck! Kayak apa aja, ya? Maka berangkatlah sore itu aku ke Bandung.

"Setelah lihat papan nama "D Teuik Kafe", turun di pertigaan Cikutra, jalan ke atas," kata Mbak Lilis dalam sms-nya. Aku berdua Ryu begitu semangat menyusuri jalan ke atas itu. Ah, mungkin cuma beberapa ratus meter, okelah sambil olahraga pagi, pikirku. Tetapiii... kok nggak nemu-nemu kafe-nya? Ada sih ketemu papan nama D Teuik Kafe tapi petunjuknya masih 1 km. Padahal kami sudah berjalan sekitar 3 km. Wah, Baduy lewat neh! Batinku sambil bertanya-tanya, sebenarnya ini mau gathering apa hiking, sih? Hihihi

Tapi penderitaan itu terbayar setelah ketemu banyak temen-temen penulis dan kru Sygma. Dengan format santai, acara diskusi dan sharing ide lumayan menarik. Apalagi acara tukar kado dan games. Aku masih ketawa setiap ingat tukar kado yang nggak selesai-selesai. Geli banget. Dan ternyata para penulis emang nggak berbakat jadi kaya, nggak ada yang bisa main golf! Aduh, capek deh! Dan ternyata lagi, penulis itu pada narsis, lihat aja fotonya! :))

Terima kasih kepada Sygma atas perhatiannya pada penulis.
Terima kasih kepada teman-teman penulis yang asyik-asyik.
Semoga kita terus punya kekuatan untuk berkarya yang bermanfaat.






Thursday, March 20, 2008

Merindukan Baduy

Bukan hanya untuk riset novel ketika saya memutuskan ke sana. Tapi lebih karena rindu suasana Baduy yang pernah saya kunjungi 2 tahun yang lalu. Sepi, exotis dan menentramkan. Cocok untuk kontemplasi. Saat perjalanan hidup sudah mencapai titik letih, terkadang saya memutuskan berhenti sejenak untuk melihat jejak-jejak di masa lalu. Berapa kesalahan yang telah saya buat? Berapa waktu yang habis terbuang? Lalu menimbang-nimbang, apa yang seharusnya saya putuskan? Dan tempat seperti Baduy sangat mendukung untuk itu.

Tetapi, Baduy yang sekarang sudah berbeda dengan Baduy yang saya kunjungi 2 tahun lalu. Banyak hal yang sudah berubah. Seperti makanan dan cara berpakaian. Kalau dulu saya hanya menemui ikan asin dan nasi, sekarang sudah ada modifikasi beberapa makanan/masakan. Soal baju juga begitu, saya tak banyak menemukan baju hitam-hitam untuk laki-laki, tetapi mereka sudah mengenakan pakaian modern seperti kaos meskipun celananya masih hitam.

Semua perubahan itu memang menimbulkan beberapa pertanyaan dan ketidakpuasan dalam diri saya. Tetapi bagaimanapun perubahan akan selalu terjadi dalam sebuah masyarakat. Lalu apakah untuk alasan riset novel yang saya perlukan lantas saya jadi kecewa? Semua yang tumbuh dan hidup selalu bisa berubah dalam sekejab. Saya belajar ketulusan dari sorot mata sahabat saya di tanah Baduy dan saya selalu ingin kembali.
(untuk seseorang yang menemani perjalanan ini, 'terimakasih atas kesabarannya').

Thursday, February 28, 2008

Kau Pergi, Kau Kucari


Minggu ini aku dapat kiriman cover novel baru melalui email. Draft novelnya sendiri sudah kubaca tahun lalu.
Novel berjudul “KAU PERGI, KAU KUCARI” terbitan Grasindo, masih gress, bergenre teenlit yang kemudian menjadi lini teentulalit. Pengarangnya Sony Asgar, sobat lama yang sekarang lagi melanjutkan S2 di Brisbane. Waktu baca draftnya, novel ini lucu habis, sampai aku dan teman-teman terpingkal-pingkal.
Tokohnya aneh dan agak syaraf kurasa. Hihihi. Tapi menjadi unik karena bercerita tentang Siti Nurbaya di abad kini. Habis terpingkal-pingkal aku malah membayangkan pengarangnya yang menurutku cool-cool aja. Kok bisa sih, dia lucu kayak gini kalo nulis? Tapi kalo menurut temannya sih, Asgar itu singkatan dari asli garing. Dan memang, mantan aktivis ITB ini sebenarnya asli garing. Kok malah ngomongin pengarangnya sih?
Okelah, kalau mau cari hiburan, jangan lupa masukkan ke keranjang belanja anda novel menghibur “KAU PERGI, KAU KUCARI”. Dijamin anda akan menjadi muda sepuluh tahun lagi karena banyak tertawa. Nah, gimana Kak Sony? Oke kan promosinya? :D Selamat ya! Meski bakalan sibuk ngerjain thesis, jangan lupa tetep bernovel ria! Kutunggu karya lanjutannya! :)








Monday, February 18, 2008

Mengagumi Puisi Cinta Sapardi

Malam sehabis hujan kali itu ada yang istimewa. Aku bersama beberapa teman menikmati puisi-puisi cintanya penyair kawakan Sapardi Djoko Damono di Graha Bakti Budaya TIM; Hujan Bulan Juni, Aku Ingin, Di Restoran dll. Musikalisasi puisi yang dinyanyikan Ari Malibu dan Reda Gaudimo sungguh indah. Luar biasa....

Imlek di Klenteng Petak IX

Aku agak ragu ketika teman photografer mengajak ke Klenteng Petak IX, Glodok Pancoran, untuk hunting foto Imlek. Biasalah, bulan Februari selalu saja hujan dan banjir di Jakarta. Tapi mikir-mikir, asyik juga nih?
Akhirnya berangkat juga pagi itu ke Glodok meski hujan. Transit di Blok M, naik busway ke arah Glodok. Teman baik yang lain sudah menjemput di dekat halte busway Glodok. Kita lalu berjalan menyusuri gang Petak IX.





Suasana Imlek langsung terasa begitu tiba di depan Klenteng. Aroma Hio begitu khas. Aku langsung tertarik pada episode (emangnya sinetron ya? hehe) pembagian angpau. Orang-orang penerima angpau berbaris di tertibkan petugas dengan gaya setengah membentak-bentak membuatku rada nggak nyaman mendengarnya. Seorang photografer mendekati kakek yang sudah letoy menunggu angpau dan mengajaknya ngobrol. Ternyata sang kakek berasal dari Kalideres dan sudah sejak kemarin sore menunggu pembagian angpau.

Usai melihat pembagian angpau yang dramatis kayak di sinetron, aku dan teman-teman masuk ke dalam Klenteng. Asap Hio langsung mengenai mataku (udah disarankan mengenakan kacamata, tapi aku lupa membawanya) dan menangislah aku. Orang-orang yang merayakan Imlek bersembahyang dengan khidmad sementara para photografer mengambil gambar.
Sampai sore aku menikmati suasana Imlek di Klenteng Petak IX. Banyak kisah memenuhi benakku. Hm, ternyata sungguh mengasyikkan menikmati hal-hal baru :)

(foto : Sutrisna Ramli)




Monday, January 21, 2008

MENULISLAH TERUS

“Bagaimana menghadapi penolakan naskahku?”

Beberapa kali saya mendapat email yang mengungkapkan tentang penolakan naskah yang dikirim ke media dan tentu saja apatis yang menyertainya. Setiap membaca keluhan seperti ini, saya selalu flashback ke naskah-naskah saya sendiri. Berapa banyak perbandingan naskah lolos dan ditolak? Jika dikalkulasikan mungkin lebih banyak yang ditolak, tetapi saya tidak begitu memedulikan penolakan itu. Bukan berarti tidak kecewa, pastilah terlintas perasaan sedih, namun saya lebih suka melanjutkan berkarya ketimbang tenggelam dalam apatis lalu berhenti berkarya. Saya meyakini bahwa karya terbaik adalah karya yang akan saya tulis berikutnya. Begitu seterusnya setiap saya menulis dan menulis lagi.

Banyak kisah dari penulis terkenal dunia yang bisa menginspirasi kita dalam menghadapi penolakan-penolakan media. Penulis serial Harry Potter, J.K. Rowling, pernah menghadapi penolakan penerbit sebelum novel Harry Potter bisa terbit dan menjadi best seller dunia. Demikian juga John Grisham dengan novelnya A Time To Kill. Lalu kisah seru penulis horror Stephen King. Stephen selalu memasang karya-karyanya yang ditolak di dinding kamar hingga tembok itu penuh. Bahkan Tom Clancy juga sempat kurang mendapat angin dari penerbit hingga menjadi begitu terkenal. Atau kisah penulis Rex Pickett yang karyanya terus ditolak hingga usianya setengah abad. Koran Inggris Guardian bahkan sudah menulis bahwa Rex memang bukan seorang penulis berbakat. Rex depresi, tenggelam dalam alcohol dan hidupnya kacau balau. Dalam kondisi depresi itu, Rex menulis sebuah novel semacam semiotobiografi berjudul SIDEWAYS. Novel ini berhasil terbit, mendapat sambutan baik dan sebuah perusahaan film di AS memfilmkannya.

Penolakan dari media atau penerbit adalah bagian dari sebuah perjalanan panjang yang suka tidak suka mesti dilalui seorang penulis. Modal besar untuk meraih sukses dalam menulis adalah semangat tinggi, ketidakbosanan dalam berkarya, dan jiwa pantang menyerah. Maka berusahalah terus, nikmati prosesnya dan jangan pernah putus asa.