Monday, April 28, 2008

The Forbidden Kingdom

Wow, aku suka banget bisa nonton film ini bareng sahabatku yang bela-belain nonton 2x demi menemaniku, hehehehe! The Forbidden Kingdom menawarkan gambar-gambar yang indah, cerita yang menghibur dan manis. Apalagi kelucuan-kelucuannya natural dan nggak dibuat-buat. Ya iyalah! Nggak usah komentar deh kalau soal itu. Hampir mirip sama The Last Samurai (mungkin karena penulis skenarionya orang yang sama : John Fusco) dan juga ceritanya agak senada dengan The Lord of The Ring. Tapi tetep aja horeee! Keren habis!

Sunday, April 27, 2008

Indonesia Membaca!



Datang ke World Book Day 2008 dan ketemu teman-teman lama membuat hidup serasa lebih hidup! Yaelah, kayak iklan aja sih? Tapi bener deh, rasanya sudah lama banget nggak ketemu teman-teman komunitas trus ngobrolin buku, tulisan dan haha hihi tentang hal-hal yang lucu sambil menikmati nasi ulam jaya yang enak. Hm... betapa indahnya hidup...ceila...:)

World Book Day selalu menyuguhkan acara-acara menarik untuk pecinta buku. Workshop penulisan, jumpa pengarang, pameran komunitas dan lain-lain. Meski terlambat saya sempat mengikuti acara off air-nya Kick Andy. Wah, lumayan seru dan menggugah semangat juga acara itu. Di beranda komunitas saya bertemu saudara dari Baduy yang juga ikut pameran. Lengkap sudah rasanya hari itu kegembiraan saya. Ternyata memang di sinilah dunia saya. I love it!

Friday, April 25, 2008

Cinta

Apakah kau pernah merasakan keindahan cinta? Kau seperti mengawang, menghirup sesuatu yang menyenangkan dan dunia menjadi lebih nyaman untuk ditinggali. Aku punya cerita tentang cinta.

Delapan tahun yang lalu, wanita berpendidikan SD itu berusia 38 tahun. Sosoknya sedang, tawanya riang dan pembawaannya selalu senang. Klop dengan suaminya yang suka melucu. Wanita itu ibu rumah tangga dan suaminya bekerja memeriksa rel kereta api setiap malam hingga subuh. Anaknya tiga orang. Sejak kos di rumahnya, aku menjadi bagian dari keluarganya. Empat tahun aku melewati suka duka bersama keluarga ini. Setelah tidak lagi tinggal bersamanya, aku selalu menyempatkan singgah jika kebetulan ada keperluan ke kota itu. Mungkin tepatnya bukan singgah, tetapi pulang. Bapak, begitu aku memanggil suaminya, akan menjemputku dan memaksaku menginap di rumahnya. Malamnya, aku, Ibu dan dua anak gadisnya akan menggelar kasur di lantai dan tidur bersama-sama setelah makan dan lelah bercerita. Saat seperti itu, aku seakan pulang ke rumah setelah lama di rantau.

Waktu membawaku bertemu cinta yang lain. Tiga tahun yang lalu, mantan wanita karier itu berusia 65 tahun. Meskipun sudah nenek-nenek, sosoknya ideal, senyumnya lembut dan pembawaannya penuh tata karma kraton. Maklumlah, ada silsilah darah biru. Ibu, begitu aku memanggilnya, selalu mengingatkanku pada ibu kandungku. Kami melewati hari dengan banyak berbagi suka duka. Setiap tindakannya adalah pembelajaran bagiku. Aku mengaguminya. Peluk dan ciumnya selalu mengantarkan kepergianku traveling ke beberapa tempat. Air matanya menemani kesedihan-kesedihanku menghadapi masalah. Nasehat-nasehat dan supportnya membuatku bertahan dari goncangan. Ponselku berdering-dering jika kebetulan aku lupa berpamitan pergi lewat sehari. Putrinya menjadi kakak bagiku. Malam-malam ketika menikmati sinar bulan di balkon, aku sering merenung. Aku merasa dalam dekapan keluarga meskipun hidup di rantau. Tak kekurangan cinta, kasih dan sayang.

Jika saja kau mau memungutnya, begitu banyak cinta di sekeliling kita. Hanya saja kita lebih sering menutup mata, lebih suka membuka permusuhan untuk hal-hal sepele dan memasang gengsi kelewat tinggi untuk menerima ketulusan cinta. Namun jangan harap kita akan mendapatkan cinta tanpa belajar mencintai orang lain. Dan pernahkah kau membayangkan betapa menakutkan hidup tanpa cinta?

Thursday, April 24, 2008

Kenanglah

Kenanglah aku
Di saat aku telah pergi
Jauh ke suatu negeri yang sunyi
Di saat kau tak dapat lagi meraih tanganku
Di saat aku menoleh tapi tak mungkin kembali

Kenanglah aku
Di saat aku tak bisa lagi dari hari ke hari
Mengungkapkan padaku masa depan yang kau rencanakan
Kau mengerti, kau hanya dapat mengenangku
Sudah terlambat untuk menyesal atau berharap

Namun andaikan kau terpaksa sesaat melupakanku
Dan kemudian kembali terkenang padaku
Jangan bersedih
Karena Jika kegelapan serta rasa dikhianati itu
Meninggalkan sesuatu yang pernah berkecamuk di hatiku
Lebih baik kau lupakan saja sambil tersenyum
Daripada kau terkenang dan merasa sedih

(dari sobekan kertas bungkus)

Monday, April 21, 2008

LA TAHZAN for broken hearted MUSLIMAH


Mengapa harus kata jatuh yang berada di depan kata cinta?
Apakah cinta memang selalu identik dengan musibah dan malapetaka?
Mengapa harus kata mati yang berada di belakang kata cinta?
Apakah cinta memang selalu menghadirkan segumpal lara dan setetes air mata?
Sejumlah kisah, sejumlah peristiwa, lahir dan tumbuh bersama cinta.
Tak jarang terdapat luka di setiap akhir cerita, ya, luka yang teramat pedih.
Luka yang beakhir dengan tangisan pilu dan kesedihan abadi.
Atas dasar itulah buku ini hadir. Di persembahkan untuk semua muslimah yang sedang bersentuhan dengankesedihan akan cinta. Selalu ada jalan terbentang, selalu ada kemungkinan untuk menang. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Muslimah.


La Tahzan....LA TAHZAN for broken hearted MUSLIMAH

Penyusun: Asma Nadia
Kontributor Penulis:
- Asma Nadia- Dyotami Febriani- Intan Arifin- Dian Ibung- Dewi Rieka- Me- Amelia - Nasanti- Ummu Alif- Tary- Leyla Imtichanah- Mariskova- Novi Khansa- Ida Az- Esti Handayani

Sunday, April 13, 2008

Tragedi dan Komedi

Sore itu ia mengajakku bertemu di sebuah kafe favoritnya. Bibirnya seperti menahan tawa yang siap meledak hingga wajahnya terlihat aneh. Ia lalu memesankan coklat panas untukku dan sepiring kecil muppin. Aku menebak ada curhatan menarik sehingga ia meluangkan waktu untuk mengundangku.

“Loe tahu nggak bedanya tragedy sama komedi?” Ia memulai.
Aku meletakkan tas di samping tempatku duduk lalu menatapnya. “Tragedy selalu berbau air mata, kalo komedi selalu berbau kegembiraan? Bener nggak?”
“Benar, tapi aku belajar bahwa tragedy yang terjadi terus menerus kadang menjadi komedi yang cukup menghibur,” katanya.
Lalu tawanya meledak. Beberapa orang di kafe itu menoleh ke meja kami. Aku menyodok lengannya pelan, memberinya isyarat agar mengontrol tawanya. Ia langsung mengerem tawanya saat pelayan membawa pesanan kami. Baru setelah pelayan pergi dia meneruskan tawanya sambil menekap mulutnya.

“Loe nggak lagi saraf ‘kan?” Aku membuat tanda jari miring di dahiku.
Dia berusaha menghentikan tawanya. “Gue patah hati lagi.”
“Trus di mana lucunya?” tanyaku heran. Aku mengurungkan mengiris muppin.
Dia tertawa lagi. “Sampai mana loe ngikuti kisah cinta gue?”
“Gue rasa semuanya, tapi sorry, gue nggak ingat bener.”
“Pertama, gagal karena masalah yang nggak jelas trus waktu dia balik lagi gue udah ilfell. Kedua, gagal karena dia dijodohin, ketiga gagal karena dia menipuku….nah dari sini nih mulai menarik…loe simak ya?”
Aku menghela nafas. Apa yang menarik dari sebuah kegagalan yang menyakitkan?
“Setelah penipuan ini, gue ketemu dua orang berikutnya yang juga menipuku.”
“Yang edisi terakhir, gimana ceritanya?”
“Setelah dekat beberapa bulan tiba-tiba aku pengen tahu tujuan dia menjalin hubungan denganku. Eh dia malah membalikkan pertanyaan begini, ‘kalo begitu tujuanmu berteman denganku apa?’ Hm, ternyata gue cuma teman buat dia.”
Kali ini aku yang tertawa. “Harusnya loe jawab, tujuan berteman adalah menambah teman. Bener nggak, sih?”
“Oh iya, bener! Kenapa nggak gue jawab begitu? Genius juga loe!” Tawanya meledak lagi. “Jadi dari semua kisah cinta yang terus menerus menyakitkan itu, kali ini aku benar-benar merasa geli. Gue udah nggak bisa nangis lagi dan malah merasa betapa lucunya hidup ini! Tau nggak loe? Hampir dua hari setelah itu aku suka ketawa-ketawa sendiri kalau ingat. Dan lebih lucu dengar kata-katamu barusan, tujuan berteman adalah menambah teman. Hahahaha!”

Aku menatap wajahnya. Tak kutemukan kesedihan dalam wajah melankolisnya. Dia benar-benar tertawa dari dalam lubuk hatinya.
“Sekarang gue punya kata-kata baru dalam hidup gue,”lanjutnya. “Aku ingin berdamai dengan kenyataan yang mengajarkan padaku lucunya kebenaran!”
“Good! Terkadang hidup memang perlu hal-hal kayak gitu. Yang pasti loe sudah mengambil langkah, kalo nggak loe nggak akan menemukan jalan apapun.”
Dia tertawa lagi. “Ini yang gue suka dari loe, say. Selalu mendorong orang-orang di sekitarmu untuk survive dan maju! I love you so much!”

Giliran tawaku yang meledak. Kami menikmati sore yang berwarna. Ah, bukankah semua makhluk ditakdirkan bertemu di suatu waktu lalu berpisah di waktu yang lain? Dan sebuah perjalanan panjang selalu bermula dari satu langkah. Ceile…jadi sok filosofis gara-gara habis ketemuan sama orang agak saraf. Ha ha ha!







Friday, April 04, 2008

Filosopi Bunga

Suatu malam seorang teman meneleponku. Awalnya dia pengen ngobrol soal tulis menulis, tetapi kemudian obrolan melebar ke mana-mana sampai kuping terasa panas. Di tengah obrolan tiba-tiba dia bertanya : "apa filosopimu dalam mencari pasangan?"
Aku berpikir sejenak karena ini bukan pertanyaan biasa yang diajukan teman-temanku lainnya. Apa ya? Dengan serampangan aku menjawab bla bla bla. Selesai jawabanku dia mengutarakan jawabannya sendiri, yang membuatku merenung sedemikian lama setelah dia menutup telpun.

"Saya mengibaratkan memasuki sebuah taman bunga, " kata temanku itu. "Di sana banyak sekali macam bunga. Ada anggrek, mawar, melati, krisan, sedap malam dan lain-lain. Saya memandang satu persatu dan mengakui hampir semua indah. Ketika saya memegang satu, saya tergoda juga untuk memegang yang lainnya. Karena saya berpikir mawar lebih harum ketimbang anggrek, melati lebih mungil dan cantik ketimbang mawar, sedap malam lebih exotis ketimbang krisan meskipun krisan juga sangat menarik dengan warnanya yang menggoda. Sejenak saya terpaku, berpikir. Semua bunga di depan saya indah, mereka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Saya tidak bisa melihat kekurangan satu bunga lalu menutupi kekurangan itu dengan memetik bunga yang lain. Lalu saya memutuskan memetik satu bunga..."
Aku menyela. "Dengan pertimbangan apa?"

"Saya harus memetik satu bunga saja karena saya tidak mau memetik bunga-bunga yang lain tanpa tujuan apalagi jika nanti saya membuangnya. Nah, setelah saya memetik satu bunga itu saya berjanji akan merawatnya dan menyiramnya dengan cinta saya. Saya akan mencintai kekurangan-kekurangannya sambil berusaha mendorong dia untuk membenahi kekurangan-kekurangan itu. Karena saya juga tidak sempurna. Dengan cinta saya yang tulus, saya yakin bunga itu akan menjadi bunga yang mendekati sempurna pada akhirnya. Insya Allah."
So sweet friend, aku menyukai filosopimu...

Sunday, March 30, 2008

A Day With Sygma


Aku sudah berangan ke Bandung minggu-minggu ini, untuk mengunjungi sahabat lama yang merindukanku (astaga, GR banget! :D) tetapi undangan dari penerbit Sygma membulatkan tekad. Ck! Ck! Ck! Kayak apa aja, ya? Maka berangkatlah sore itu aku ke Bandung.

"Setelah lihat papan nama "D Teuik Kafe", turun di pertigaan Cikutra, jalan ke atas," kata Mbak Lilis dalam sms-nya. Aku berdua Ryu begitu semangat menyusuri jalan ke atas itu. Ah, mungkin cuma beberapa ratus meter, okelah sambil olahraga pagi, pikirku. Tetapiii... kok nggak nemu-nemu kafe-nya? Ada sih ketemu papan nama D Teuik Kafe tapi petunjuknya masih 1 km. Padahal kami sudah berjalan sekitar 3 km. Wah, Baduy lewat neh! Batinku sambil bertanya-tanya, sebenarnya ini mau gathering apa hiking, sih? Hihihi

Tapi penderitaan itu terbayar setelah ketemu banyak temen-temen penulis dan kru Sygma. Dengan format santai, acara diskusi dan sharing ide lumayan menarik. Apalagi acara tukar kado dan games. Aku masih ketawa setiap ingat tukar kado yang nggak selesai-selesai. Geli banget. Dan ternyata para penulis emang nggak berbakat jadi kaya, nggak ada yang bisa main golf! Aduh, capek deh! Dan ternyata lagi, penulis itu pada narsis, lihat aja fotonya! :))

Terima kasih kepada Sygma atas perhatiannya pada penulis.
Terima kasih kepada teman-teman penulis yang asyik-asyik.
Semoga kita terus punya kekuatan untuk berkarya yang bermanfaat.






Thursday, March 20, 2008

Merindukan Baduy

Bukan hanya untuk riset novel ketika saya memutuskan ke sana. Tapi lebih karena rindu suasana Baduy yang pernah saya kunjungi 2 tahun yang lalu. Sepi, exotis dan menentramkan. Cocok untuk kontemplasi. Saat perjalanan hidup sudah mencapai titik letih, terkadang saya memutuskan berhenti sejenak untuk melihat jejak-jejak di masa lalu. Berapa kesalahan yang telah saya buat? Berapa waktu yang habis terbuang? Lalu menimbang-nimbang, apa yang seharusnya saya putuskan? Dan tempat seperti Baduy sangat mendukung untuk itu.

Tetapi, Baduy yang sekarang sudah berbeda dengan Baduy yang saya kunjungi 2 tahun lalu. Banyak hal yang sudah berubah. Seperti makanan dan cara berpakaian. Kalau dulu saya hanya menemui ikan asin dan nasi, sekarang sudah ada modifikasi beberapa makanan/masakan. Soal baju juga begitu, saya tak banyak menemukan baju hitam-hitam untuk laki-laki, tetapi mereka sudah mengenakan pakaian modern seperti kaos meskipun celananya masih hitam.

Semua perubahan itu memang menimbulkan beberapa pertanyaan dan ketidakpuasan dalam diri saya. Tetapi bagaimanapun perubahan akan selalu terjadi dalam sebuah masyarakat. Lalu apakah untuk alasan riset novel yang saya perlukan lantas saya jadi kecewa? Semua yang tumbuh dan hidup selalu bisa berubah dalam sekejab. Saya belajar ketulusan dari sorot mata sahabat saya di tanah Baduy dan saya selalu ingin kembali.
(untuk seseorang yang menemani perjalanan ini, 'terimakasih atas kesabarannya').

Thursday, February 28, 2008

Kau Pergi, Kau Kucari


Minggu ini aku dapat kiriman cover novel baru melalui email. Draft novelnya sendiri sudah kubaca tahun lalu.
Novel berjudul “KAU PERGI, KAU KUCARI” terbitan Grasindo, masih gress, bergenre teenlit yang kemudian menjadi lini teentulalit. Pengarangnya Sony Asgar, sobat lama yang sekarang lagi melanjutkan S2 di Brisbane. Waktu baca draftnya, novel ini lucu habis, sampai aku dan teman-teman terpingkal-pingkal.
Tokohnya aneh dan agak syaraf kurasa. Hihihi. Tapi menjadi unik karena bercerita tentang Siti Nurbaya di abad kini. Habis terpingkal-pingkal aku malah membayangkan pengarangnya yang menurutku cool-cool aja. Kok bisa sih, dia lucu kayak gini kalo nulis? Tapi kalo menurut temannya sih, Asgar itu singkatan dari asli garing. Dan memang, mantan aktivis ITB ini sebenarnya asli garing. Kok malah ngomongin pengarangnya sih?
Okelah, kalau mau cari hiburan, jangan lupa masukkan ke keranjang belanja anda novel menghibur “KAU PERGI, KAU KUCARI”. Dijamin anda akan menjadi muda sepuluh tahun lagi karena banyak tertawa. Nah, gimana Kak Sony? Oke kan promosinya? :D Selamat ya! Meski bakalan sibuk ngerjain thesis, jangan lupa tetep bernovel ria! Kutunggu karya lanjutannya! :)








Monday, February 18, 2008

Mengagumi Puisi Cinta Sapardi

Malam sehabis hujan kali itu ada yang istimewa. Aku bersama beberapa teman menikmati puisi-puisi cintanya penyair kawakan Sapardi Djoko Damono di Graha Bakti Budaya TIM; Hujan Bulan Juni, Aku Ingin, Di Restoran dll. Musikalisasi puisi yang dinyanyikan Ari Malibu dan Reda Gaudimo sungguh indah. Luar biasa....

Imlek di Klenteng Petak IX

Aku agak ragu ketika teman photografer mengajak ke Klenteng Petak IX, Glodok Pancoran, untuk hunting foto Imlek. Biasalah, bulan Februari selalu saja hujan dan banjir di Jakarta. Tapi mikir-mikir, asyik juga nih?
Akhirnya berangkat juga pagi itu ke Glodok meski hujan. Transit di Blok M, naik busway ke arah Glodok. Teman baik yang lain sudah menjemput di dekat halte busway Glodok. Kita lalu berjalan menyusuri gang Petak IX.





Suasana Imlek langsung terasa begitu tiba di depan Klenteng. Aroma Hio begitu khas. Aku langsung tertarik pada episode (emangnya sinetron ya? hehe) pembagian angpau. Orang-orang penerima angpau berbaris di tertibkan petugas dengan gaya setengah membentak-bentak membuatku rada nggak nyaman mendengarnya. Seorang photografer mendekati kakek yang sudah letoy menunggu angpau dan mengajaknya ngobrol. Ternyata sang kakek berasal dari Kalideres dan sudah sejak kemarin sore menunggu pembagian angpau.

Usai melihat pembagian angpau yang dramatis kayak di sinetron, aku dan teman-teman masuk ke dalam Klenteng. Asap Hio langsung mengenai mataku (udah disarankan mengenakan kacamata, tapi aku lupa membawanya) dan menangislah aku. Orang-orang yang merayakan Imlek bersembahyang dengan khidmad sementara para photografer mengambil gambar.
Sampai sore aku menikmati suasana Imlek di Klenteng Petak IX. Banyak kisah memenuhi benakku. Hm, ternyata sungguh mengasyikkan menikmati hal-hal baru :)

(foto : Sutrisna Ramli)




Monday, January 21, 2008

MENULISLAH TERUS

“Bagaimana menghadapi penolakan naskahku?”

Beberapa kali saya mendapat email yang mengungkapkan tentang penolakan naskah yang dikirim ke media dan tentu saja apatis yang menyertainya. Setiap membaca keluhan seperti ini, saya selalu flashback ke naskah-naskah saya sendiri. Berapa banyak perbandingan naskah lolos dan ditolak? Jika dikalkulasikan mungkin lebih banyak yang ditolak, tetapi saya tidak begitu memedulikan penolakan itu. Bukan berarti tidak kecewa, pastilah terlintas perasaan sedih, namun saya lebih suka melanjutkan berkarya ketimbang tenggelam dalam apatis lalu berhenti berkarya. Saya meyakini bahwa karya terbaik adalah karya yang akan saya tulis berikutnya. Begitu seterusnya setiap saya menulis dan menulis lagi.

Banyak kisah dari penulis terkenal dunia yang bisa menginspirasi kita dalam menghadapi penolakan-penolakan media. Penulis serial Harry Potter, J.K. Rowling, pernah menghadapi penolakan penerbit sebelum novel Harry Potter bisa terbit dan menjadi best seller dunia. Demikian juga John Grisham dengan novelnya A Time To Kill. Lalu kisah seru penulis horror Stephen King. Stephen selalu memasang karya-karyanya yang ditolak di dinding kamar hingga tembok itu penuh. Bahkan Tom Clancy juga sempat kurang mendapat angin dari penerbit hingga menjadi begitu terkenal. Atau kisah penulis Rex Pickett yang karyanya terus ditolak hingga usianya setengah abad. Koran Inggris Guardian bahkan sudah menulis bahwa Rex memang bukan seorang penulis berbakat. Rex depresi, tenggelam dalam alcohol dan hidupnya kacau balau. Dalam kondisi depresi itu, Rex menulis sebuah novel semacam semiotobiografi berjudul SIDEWAYS. Novel ini berhasil terbit, mendapat sambutan baik dan sebuah perusahaan film di AS memfilmkannya.

Penolakan dari media atau penerbit adalah bagian dari sebuah perjalanan panjang yang suka tidak suka mesti dilalui seorang penulis. Modal besar untuk meraih sukses dalam menulis adalah semangat tinggi, ketidakbosanan dalam berkarya, dan jiwa pantang menyerah. Maka berusahalah terus, nikmati prosesnya dan jangan pernah putus asa.

Thursday, January 03, 2008

WAKTU, TEMPAT & SEMANGAT

Tempat yang indah dan waktu yang berlimpah akan membuat otak lancar memuntahkan ide cerita. Benarkah?

Saat masih bekerja nine to five, aku selalu mengangankan memiliki waktu yang panjang dan tempat yang nyaman untuk menulis. Waktu yang panjang bisa berarti seminggu penuh mencurahkan pikiran untuk menulis tanpa gangguang ngantor dan tempat yang nyaman bagiku adalah sebuah meja (dengan laptop dan kursi yang empuk tentu saja) menghadap pemandangan indah pegunungan atau pantai serta udara yang segar. Pasti tokoh-tokoh dalam ceritaku akan lancar memainkan perannya dan novelku segera selesai.

Karena angan-angan ‘indah’ itu aku menjadi sering tertekan dan bersalah jika tulisanku terbengkelai. Tentu saja tulisanku tak selesai-selesai, aku tak punya waktu! Berangkat pagi pulang malam! Lalu kapan aku akan menulis? Sambil uring-uringan aku mencoba mencari solusi agar bisa menyelesaikan tulisan-tulisanku yang terbengkelai.

Banyak jalan menuju Roma, begitu pikirku. Aku mulai membuat jadwal menulis di sela rutinitas kantor. Beberapa cara mungkin bisa ditiru tapi beberapa diantaranya jangan, karena termasuk korupsi waktu di kantor dan tentu saja tidak baik. Cara pertama, aku menulis malam hari setelah pulang dari kantor. Tetapi menulis malam membuatku sangat kelelahan pagi harinya dan hasil tulisan tidak optimal.
Cara pertama ini sama sekali tidak berhasil, bahkan malah membuatku sakit dan opname. Aku lalu menerapkan cara kedua. Yaitu menggunakan waktu weekend untuk menyelesaikan tulisan-tulisanku. Entah mood sedang baik atau tidak, aku selalu menulis saat week end. Meski aku harus mencoret jadwal jalan-jalan dan bersenang-senang dengan teman-teman, namun cara kedua ini lumayan manjur. Aku berhasil menyelesaikan beberapa paragraph dari cerpen-cerpenku. Untuk mendukung kecepatan menulisku saat weekend, aku selalu memikirkan jalan ceritaku di manapun. Saat berangkat ke kantor, saat istirahat siang di kantor ataupun saat menunggu di bank atau halte bus. Meski agak riskan karena melamun di jalanan membuatku sering terantuk batu, menubruk orang atau salah naik bus, tetapi cara pendukung ini cukup membuat ceritaku lebih lancar menuju ending. Sedangkan cara ketiga adalah aku menulis saat tidak ada pekerjaan di kantor. Tapi cara ini kurang menyenangkan, karena lagi seru-serunya menulis tiba-tiba si bos sudah ikut membaca cerpenku dari belakang punggungku. Cara ketiga ini tidak baik, namun membuatku kecanduan menulis karena mencuri-curi waktu (baca: jangan ditiru, karena merugikan perusahaan tempat kau bekerja).

Tahun 2004, aku memiliki waktu berlimpah untuk menulis. Tentu saja, karena aku tak lagi bekerja kantoran. Hari pertama tidak pergi ke kantor, aku seperti orang keluar dari penjara. Oho! Aku bebas! Sekarang seluruh waktuku untuk menulis! Aku akan melahirkan masterpiece! Girangku dalam hati. Tapi aku mengambil jeda beberapa hari untuk mulai menulis. Saat jeda itu aku tersenyum-senyum membayangkan indahnya hari-hariku menulis tanpa gangguan pekerjaan kantor. Mungkin seperti memasuki jalan tol tanpa macet.

Pagi di bulan Mei aku mulai menulis, dengan bayangan semua akan selancar lintasan busway. Tetapi sudah lima jam duduk di depan komputer aku hanya menulis satu baris. Apa yang terjadi gerangan? Lalu aku memutuskan untuk istirahat. Tetapi hari berikutnya sama saja. Aku tidak memiliki kata-kata untuk kutuangkan di layar monitor. Yang benar saja! Bukankah sekarang aku memiliki waktu yang berlimpah untuk menulis? Kenapa jadi malah susah menulis? Dan kebuntuan ini kemudian membuatku malas menulis. Aku melalui hari demi hari dengan membaca bukan menulis! Astaga!

Namun kemalasan itu kemudian terusir oleh kritikan-kritikan dari keluarga besar. Timbullah semangat dan tekadku untuk membuktikan diri bahwa aku bisa menulis, menjadi diriku sendiri dan bertanggungjawab dengan pilihanku. Aku membuat jadwal padat untuk menulis dan mengirimkan minimal 3 tulisan jadi setiap minggu ke majalah. Dan mulailah ritme menulisku yang full time itu berjalan menyenangkan. Aku merasa telah menciptakan dunia pilihanku dengan sungguh-sungguh.

Hambatan menulis yang terbesar bagiku justru ketika memiliki waktu yang berlimpah dan tempat yang nyaman. Aku cenderung susah menumpahkan ide dan cenderung bermalas-malasan. Pernah suatu ketika aku memutuskan pergi ke villa seorang teman di Puncak untuk menyelesaikan sebuah novel. Aku membayangkan akan duduk mengetik menghadap pemandangan indah dan menyesap secangkit teh panas. Tetapi pada kenyataannya, aku sama sekali tak menulis di sana. Aku lebih banyak tidur dan membaca. Alamak! Di saat yang lain, seorang agen mencari penulis untuk sebuah proyek buku. Aku ditawari menyelesaikan beberapa serial dengan fasilitas menulis di sebuah tempat yang indah dan nyaman. Namun mengingat kebiasaan burukku, aku jadi merasa geli dan memutuskan mundur dari proyek ini.

Setiap penulis pasti memiliki kebiasaan yang masing-masing unik untuk menyelesaikan karyanya. Termasuk penulis –contohnya aku- yang lebih gampang menyelesaikan tulisan ketika berada pada waktu yang sempit dan tempat yang jelek. Nah, menurutku semuanya kembali pada semangat dan tekad untuk menyelesaikan tulisan itu. Di manapun kita menulis kalau semangat dan tekad itu ada maka otak akan mudah memuntahkan cerita. Percayalah!

Saturday, December 29, 2007

Siang di Penghujung Desember

Kutemukan senyummu di etalase sebuah mall
Di samping kerlip pohon natal, di antara lalu lalang orang
Kupunguti kisahmu di sepanjang jembatan penyeberangan
Mungkin mimpi kita sama, katamu setelah jeda gerimis yang sendu
Kita lihat saja, jawabku mengumpulkan serpih-serpih rasa

Lalu kita menyusuri takdir
Orang-orang di restoran tertawa
Ikan gurame di depan kita bernyanyi
Ayam goreng mengedipkan mata
Aku ingin mengakhiri pelayaran, katamu
Maka menepilah, ada pelabuhan di sana, kataku

Kau memalingkan wajah kepadaku
Matamu berpijar seperti matahari siang di penghujung Desember
Menghalau mendung yang menggantung di atas kepalaku

Bisakah kau biarkan pijar itu tetap di sana?
Karena aku ingin selalu menatapnya
Hari ini dan selanjutnya

Monday, December 10, 2007

Kembali ke Alam


foto by Tary

Hampir petang ketika aku menyusuri tanjakan jalan setapak. Hamparan kebun teh seperti permadani gelap yang muram. Langit mendung, gerimis mulai turun. Aku mempercepat langkah, tetapi ransel di punggungku memberati. Beberapa lama tidak meluangkan waktu untuk traveling, aku merasa menemukan diriku kembali di sini.
Seorang sahabat lama menyambut begitu aku menurunkan ransel di teras rumahnya.
"Hai! Apa kabar? Sendiri saja? Wah, kamu masih kurus juga seperti sepuluh tahun lalu," katanya memelukku erat. Aku tersenyum, memandang wajahnya yang sedikit tembem dan sorot matanya yang tajam. Dulu semasa kuliah di Yogya kami bersahabat dekat. Dan ia belum berubah, hanya bertambah dewasa. Malam itu aku istirahat di rumahnya.

Esoknya, aku meguntit sahabatku ke tempat kerja. Sebuah perkebunan bunga luas, entah berapa hektar. Mataku seperti dimanjakan dengan berbagai jenis bunga dan tumbuhan yang manis-manis. Subhanallah...betapa kecilnya aku di hadapan-Mu ya Rabb...

Seorang teman kerjanya berbaik hati mengantarku keliling hingga ke kampung-kampung di kaki gunung. Aku tak begitu memerhatikan teman baru ini bicara (maaf ya, hihi), tapi terpana-pana oleh keelokan alam yang memukau. Subhanallah...subhanallah...subhanallah...

Melihat alam yang indah, bertemu orang-orang baru dan berteman dengan mereka adalah sesuatu yang menakjubkan. Mungkin ini obat stress paling mujarab. Mungkin...

Tuesday, November 27, 2007

Kasih Ibu

Suatu sore di sebuah koridor rumah sakit.
Belum tiba jam kunjung ketika aku menghampiri ruang tunggu. Seorang kawan dirawat karena DBD dan aku menyempatkan diri untuk menengoknya. Duduk di bangku ruang tunggu aku langsung mengeluarkan sebuah buku dan mulai membaca tanpa memedulikan orang di sekelilingku. Ini kebiasaanku yang menurut teman-teman dekatku mengesalkan. Karena kalau sudah tenggelam dalam bacaan, aku akan lupa segalanya. Namun baru membuka halaman pertama terdengar tarikan nafas berat orang yang duduk di sampingku. Aku melirik sekilas. Seorang ibu paruh baya tampak gelisah, matanya sembab dan pipinya merah seperti kebanyakan menangis.

Aku menutup bukuku dan menoleh ke arah ibu paruh baya itu. Tiba-tiba dia mengangguk padaku sambil memaksakan senyumnya.

“Menjenguk kerabat, Bu?” tanyaku basa-basi.
Ibu itu mendesah. “Sedang mengurus administrasi putriku. Baru saja meninggal.”
“Oh, maafkan saya, Bu…”
“Tidak apa-apa, Mbak.”
Aku terdiam lama, bingung menghadapi orang yang tengah berduka. Hingga ibu itu bicara lagi aku masih terdiam.
“Putriku menderita kanker darah. Sangat kesakitan,” katanya sambil menyusut air mata.
Aku memilih kata-kata yang tepat. “Kata ustad saya, sakit itu juga sebagai penggugur dosa-dosa. Semoga sakit putri ibu akan menghapuskan seluruh dosa-dosanya. Ia kembali pada Allah dalam keadaan bersih dan mendapat tempat yang baik di sisi-Nya.”
“Amin. Terima kasih, Mbak…” Ibu itu tersenyum.

Aku menghela nafas berat seraya membuat pandang ke arah bougenvil ungu di pelataran rumah sakit. Berapa banyak kerabat yang ditinggal pergi orang yang dicintainya hari ini? Lima? Sepuluh? Dua puluh? Suatu ketika nanti, aku juga akan meninggalkan atau ditinggalkan. Bukankah itu sunatullah kehidupan? Datang dan pergi sesuai waktunya. Tetapi seperti apa kondisiku pada saatnya nanti? Apakah aku akan setegar ibu itu?

“Hartaku habis, putriku juga meninggal, Mbak,” katanya lagi. Aku mendengarkan dengan saksama. “Tetapi aku lega mbak, aku telah berusaha sekuat tenaga untuk mengobatkan putriku. Meskipun semua terjual habis untuk biaya pengobatan, aku lega. Putriku pergi setelah usahaku benar-benar maksimal.”

Aku mengangguk sambil memandang mata ibu itu. Matanya seperti danau jernih yang membuatku berenang dalam kesejukan. Tiba-tiba seorang lelaki menghampirinya dan mengajaknya ke ruang lain. Aku mempersilakan ibu itu. Dalam langkah-langkahnya menjauhi ruang tunggu, aku seperti melihat bayangan ibuku bergegas menghampiriku.
“Kalau saja bebanmu bisa beralih pada ibu, maka ibu dengan senang hati akan menanggungnya agar kau tak bersedih,” samar terdengar suara ibuku.

Buru-buru aku membaca kembali bukuku. Aku tak mau sore ini jadi melankolis.

Sunday, November 25, 2007

Mengenal Andrea

Ruang pojok toko buku itu sesak oleh pengunjung. Mereka histeris begitu Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi masuk ruang talk show. Luar biasa! Nenek-nenek, ibu-ibu, mbak-mbak, tante-tante dan adik-adik. Baru kali ini saya melihat masyarakat Indonesia begitu antusias terhadap seorang penulis. Mereka bahkan menganjurkan tetralogi Laskar Pelangi menjadi bacaan wajib orang Indonesia. Seorang teman lama saya yang sekarang mukim di Samarinda juga mengatakan begitu dengan penuh semangat melalui telepon.

Laskar Pelangi menjadi sebuah fenomena. Penulisnya tidak berniat menjadi penulis atau menerbitkan buku itu, tapi kemudian meledak menjadi bacaan banyak kalangan. Andrea dalam sesi wawancara mengatakan, ia hanya ingin menulis buku sebagai hadiah untuk gurunya, namun seorang teman mencuri naskah itu dan mengirimkan ke penerbit. Dan begitulah jadinya. Laskar Pelangi cetak ulang beberapa kali dan membuat banyak orang histeris.
Saya justru terkesan dengan sikap Andrea yang sangat rendah hati. Dia bilang, "saya bukan penulis, saya belum pernah menulis cerpen sekalipun, saya hanya muncul karena kecelakaan. semua ini bisa terjadi karena guru saya, teman-teman saya dan tentu saja pembaca. sama sekali bukan karena saya. sekali lagi saya bukan penulis yang baik, bahkan bisa dibilang saya pembaca sastra yang buruk."

Sambil tersenyum malu-malu ketika pengunjung memintanya berdiri, Andrea mengatakan bahwa keseluruhan buku Laskar Pelangi berisi semangat tentang orang-orang kalangan marjinal namun tak ingin dimarjinalkan. Mereka berjuang meraih mimpi-mimpinya ketika banyak orang memiliki uang dan kesempatan justru memarjinalkan dirinya dengan kemalasan.
Siang itu saya melihat kerendahan hati seseorang makin bersinar ketika bersanding dengan kesuksesan. Seribu kali salut untuk Andrea!








Friday, November 16, 2007

FRESH SETELAH KETAKUTAN???


Suara orang berteriak tiba-tiba berhenti saat listrik mati. Berganti suara sorak-sorai dan ‘huuu’ menertawakan mereka yang terkatung-katung di atas dengan kepala terjungkal di bawah. Aku hanya melongo menyaksikan itu. Apa mereka itu tidak takut? Syukurlah, tak lama listrik kembali normal.

Dunia Fantasi. Dunia yang memang penuh fantasi. Siang itu sebenarnya aku hanya pengen ikut satu acara tanpa keinginan naik macam-macam mainan di sana. Tapi seseorang memaksaku naik roaler coaster. Karena teringat “Riding The Bullet”-nya Stephen King aku tertantang juga. Alhasil, turun dari roaler coaster darahku rasanya lenyap, perut mual dan dadaku sesak.

Sepertinya banyak orang yang refreshing dengan melakukan kegiatan menantang seperti itu. Terbang di ketinggian, jungkir balik serta kegiatan berbahaya lainnya. Setelah berteriak-teriak hebat, mereka merasa beban pikirannya berkurang. Mungkin ini bisa menjadi salah satu terapi buat mengobati stress. Benarkah begitu Mr. Psikiater? Kali aja ada psikiater lewat blog ini. Hehehe. Kecuali aku, yang malah stress setelah bermain.

“Jadi, kapan loe berani naik? ” tanya temenku. “Penakut loe!”
Aku tertawa saja.

Setiap manusia unik dan berbeda. Aku adalah aku bukan mereka. Mungkin mereka bisa refreshing dengan mainan-mainan itu tapi mereka tidak bisa refreshing dengan jalan-jalan ke tempat baru sepertiku. Jadi, kenapa harus dibikin seragam kalau kita memang berbeda? Ayolah guys! Berbeda itu indah!
(ngeles karena memang takut naik kaleee…..hahahaha)


Wednesday, October 31, 2007

PADA HUJAN YANG LAIN

foto by : m. arman. az
Pada hujan yang lain
Kita bertemu di sudut bandara tua
Kau tersenyum melambaikan tangan
Aku menghitung sisa kenangan

Terlalu sesak hari yang ingin kita bagi
Setelah tahun-tahun sepi berlari
Menumpas asa dan mimpi

Masih kulihat murung di wajahmu
Seperti malam tak pernah berganti pagi
Seharusnya kau izinkan matahari itu terbit
Sebab malammu telah letih

Pada hujan yang lain
Kita berjalan menuju kota lama
Adakah jejak kita tersisa?
Kau tersenyum mengenang
Aku gemetar ;
jejakmu masih kusimpan dalam lemari kaca

(26.10.2007)