Wednesday, November 18, 2009

Sketsa Bidadari- novel terbaruku


Apakah hidup selalu menyimpan separuh misteri yang tak pernah terkatakan hingga ajal menjelang? Apakah waktu akan menjawab separuh dari misteri itu? Apakah seraut wajah yang selalu muncul pada akhir sapuan kuasnya itu bagian dari misteri hidup?

Ia terus menyapukan kuasnya tanpa henti. Sesekali bibirnya tersenyum. Seperti orang tengah kasmaran. Tapi ia tak perduli. Tangannya terus bergerak dan bergerak. Sampai sinar bulan tertutup mendung dan ia hampir menyelesaikan lukisannya.

Tepat saat azan berkumandang, ia menghentikan sapuan kuasnya. Ia terpana menatap hasil lukisannya. Gambar seorang wanita dalam ukuran setengah badan. Tanpa telaga atau pun purnama. Seraut wajah yang selalu muncul dalam lukisannya itu kini menampakkan diri lebih jelas lagi. Ia seperti baru saja melihat seraut wajah itu dalam gambar yang lain.

Perlahan dikeluarkan foto ukuran postcard dari saku celana jinsnya. Dibentangkan foto itu berjajar dengan hasil lukisannya. Dadanya berdebar kencang. Seraut wajah hasil lukisannya dan foto itu sangat mirip!!!

--------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------
"Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan," begitulah
kata pepatah. Ibu adalah bidadari. Beruntunglah kita yang memiliki
dan mendapatkan limpahan kasih sayang seorang Ibu. Tary, lewat
pilihan katanya yang puitis, mengajak kita memahami tentang
kehidupan lewat sosok ibu. Bacalah, kau akan semakin menyayangi
Ibu." (Gola Gong, novelis, pengelola www.golagong.com dan
www.rumahdunia.net)

“Tary sangat pandai memberi jiwa Nawangwulan dan Jaka Tarub
dalam novel ini, lalu merangkainya menjadi novel yang romantis dan menyentuh hati.”
(Agnes Jessica, novelis dan script writer)

"Lewat novel ini, Tary tidak hanya menunjukkan pembaca untuk melihat letak
kasih sayang seorang ibu, tetapi ada yang lebih penting: sekaligus belajar memaafkan
kesalahan Ibunda."
(Ratih Kumala, penulis)

"Kisah yang meramu misteri legenda, drama keluarga dan problema cinta remaja. Menyentuh."
(Hermawan Aksan, penulis novel dan cerpen, redaktur Tribun Jabar)"

-------------------------------------------------------------------------------

Teman-teman, dapatkan novel ini di toko buku terdekat mulai akhir Oktober 2009
Terimakasih supportnya ya...


Saturday, May 23, 2009

Buku Terbaruku

Akhirnya... terbit juga buku ini...
Buku kumpulan cerita rakyat dari 33 provinsi untuk anak-anak...
Dapatkan awal Juni 2009 di toko buku terdekat...


Saturday, April 11, 2009

Antara Kritik dan Belajar

Enam bulan bekerja di televisi, puluhan email protes masuk ke inbox saya. Pun sms bernada sinis yang kadang-kadang membuat saya agak tak enak hati. Tapi saya berusaha keras menganggap email dan sms itu bentuk tanda kasih sayang sahabat-sahabat pada saya. Bukankah sahabat yang baik adalah sahabat yang selalu mengingatkan saat sahabatnya hampir tergelincir? Tetapi mudah-mudahan saya tidak sedang tergelincir.

Bukan hal yang mudah memutuskan bekerja di televisi. Setelah hampir enam bulan berpikir dan melepas beberapa project freelance akhirnya saya deal menjadi karyawan televisi. Dan bermulalah kehidupan creative yang benar-benar baru dan beda bagi saya. Meski sebelumnya saya sudah menulis script di beberapa production house, namun banyak hal yang berbeda ketika saya benar-benar berada dalam sebuah system yang dikendalikan oleh rating/share. Ketika sebuah industri digerakkan oleh sekumpulan dana yang tidak sedikit, maka setiap tayangan harus memperhitungkan factor komersil, factor pengiklan. Dan saat ini ukuran itu adalah Rating/Sharenya AC Nielsen.

Dalam sebuah diskusi, seorang pembicara mengatakan bahwa tidak ada yang salah dalam setiap tayangan sinetron yang berisi pembodohan karena pada kenyataannya penonton menyukai itu. Dan sang pembicara juga mengatakan bahwa; “Jika anda tidak suka, maka matikanlah televisi dan tayangan itu akan berakhir. Karena tanpa penonton rating/share akan rendah.” Beberapa saat saya merenungi kata-kata si pembicara. Jika begitu, lalu dimana hak penonton untuk mendapatkan tayangan yang mendidik sekaligus menghibur? Mereka menonton tayangan buruk karena mereka tidak memiliki alternatif tontonan yang lain.

Sementara ketika berada dalam system kita harus berpikir bagaimana menyelamatkan sebuah program agar tetap baik-baik saja rating/sharenya (agar program itu tidak dihentikan) sekaligus berusaha keras memperjuangkan idealisme yang masih tersisa di dada orang-orang yang berada dalam program itu untuk memenuhi hak penonton.

Sebelum terjun ke system, saya juga termasuk salah satu orang yang sering menghujat televisi. Namun penghujatan saya justru menimbulkan keinginan besar untuk mengetahui yang terjadi di dalam system. Saya memutuskan untuk nyemplung, melihat bagaimana industri bergerak, belajar dan syukur-syukur berjuang sedikit untuk membuat perbandingan tayangan menjadi 1:8 (setidaknya) dalam seminggu untuk tayangan mendidik. Saya justru merasa menjadi pecundang ketika menghujat setiap menit tapi tidak berani menanggung resiko apapun untuk merubah sesuatu.

Setiap perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan, termasuk menghadapi penghujatan. System televisi kita, mau tidak mau masih mengacu pada rating/share sebagai ukuran (karena belum ada ukuran lain yang lebih valid). Dan ukuran itu diperlukan dalam sebuah pencapaian. Saya berharap manusia tidak mengkultuskan ukuran itu sehingga menjadi tuhan.

Monday, March 30, 2009

CONFESSIONS of a SHOPAHOLIC (antara novel dan film)

Senyuman lelaki yang menawan membuat hati wanita meleleh, tapi senyuman itu belum mampu mengalahkan keajaiban barang-barang bermerek di butik…”

Wanita mana yang tidak suka belanja? Wanita dan belanja sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Jikapun ada wanita yang tak suka belanja, pasti prosentasenya lebih kecil ketimbang yang suka belanja. Beberapa wanita meredakan stressnya dengan belanja dan begitulah yang di lakukan Rebecca Bloomwood. Belanja dan terus belanja hingga 15 kartu kreditnya di blokir lalu dikejar-kejar debt collector. Dalam kondisi itu, majalah kebun tempat Rebecca bekerja kolaps. Bagaimana Rebecca menghadapi hutang kartu kreditnya tanpa pekerjaan? Apalagi Rebbeca belum bisa mengendalikan dirinya saat melihat sale besar-besaran di butik bermerek.

Membaca novel-novel chiclitnya SHOPIE KINSELLA selalu menyisakan semangat feminine. Semangat yang membuat pembaca wanita ceria menghadapi hidup dan segala permasalahnya. Meski dalam filmnya saya merasakan semangat itu terasa samar dan lebih terfokus pada kisah romantis Rebecca- Brandon, namun beberapa hal justru membuat film ini lebih logis ketimbang novelnya. Ketika bahasa tulisan menjadi bahasa gambar, tentu membutuhkan beberapa benang cerita yang membuat penonton lebih gampang mencerna cerita dengan mata. Dan dalam filmnya, Confession of Sophaholic menggunakan Selendang Hijau sebagai benang merah cerita. Beberapa hal juga muncul dalam filmnya seperti karakter Brandon yang dalam novelnya sangat arogan tetapi dalam filmnya, Brandon justru muncul sebagai sosok cool yang punya karakter kuat. Brandon yang tidak mau bergantung pada merek terkenal (meski ia putra seorang pesohor di dunia mode) berhasil menyuntikkan sindiran yang telak pada orang-orang yang mengupgrade kepercayaan dirinya menggunakan merek-merek terkenal.

Jika sebuah novel menjadi film, maka akan ada pertanyaan; bagus mana antara novel dan filmnya? Ketika bahasa tulisan menjadi bahasa visual maka akan berbeda penyampaiannya pada penikmat. Pertanyaan yang lebih pas mungkin, apakah bahasa visual ini berhasil menggambarkan novel secara keseluruhan?

Nah, silakan menonton dulu baru berpendapat!

Sunday, January 11, 2009

Pengagum Rahasia

Sejak kuliah aku mengagumi seseorang, maka bisa disebut aku pengagum rahasia. Dia adalah penulis cerpen kawakan "Jujur Prananto". Kala itu aku yang memang hobby menulis, sering tercenung-cenung setiap usai membaca cerpen Mas Jujur. Rasanya entah kapan aku bisa menulis seperti itu, dan memeng belum kesampaian. Karya-karya Mas Jujur aku kliping dan setiap buku kumpulan cerpennya terbit aku selalu mengoleksi.
Tahun berganti dan sebagai pengagum, aku selalu mengikuti berita tentang Mas Jujur. Beliau kemudian juga menulis skenario film seperti "Ada apa dengan cinta", "Petualangan Sherina," "Ungu Violet", "Doa yang mengancam" dan beberapa yang lain. Meski aku seperti kehilangan cerpen-cerpennya, namun kemudian aku jadi terseret mengikuti skenario-skenarionya. Aku juga mengoleksi buku-buku skenario Mas Jujur. Hingga suatu waktu dari millis para penulis skenario aku memberanikan diri mengirim email ke beliau. Awalnya hanya ingin berkenalan sebagai fans berat sejak lama, namun perkenalan itu kemudian menjadi seperti sekolahan bagiku. Aku belajar menulis secara tidak langsung. Sikapnya yang tegas dan to the point dalam email membuatku sering bertanya, seperti apa sih Mas Jujur itu?
Dan kesempatan membawaku bertemu beliau. Beliau berkenan menulis FTV di televisi swasta tempat aku bekerja dan kami bertemu di sana. Subhanallah, aku tak henti belajar dari sebelum ketemu hingga sekarang bertatap muka dengan beliau. Orang yang memiliki nama besar dan semakin berisi semakin menunduk, itulah Mas Jujur. Aku tak lagi menjadi pengagum rahasianya, tetapi benar-benar pengagum terang-terangan sekarang. Subhanallah...seandainya dunia ini dipenuhi orang-orang rendah hati seperti beliau...
"Mas Jujur, terima kasih mengajari saya banyak hal."

Wednesday, December 31, 2008

Tahun Baru & Liburan

Sebenarnya hanya pengen menikmati liburan dan nggak terlalu exited dengan acara pergantian tahun. Tapi karena berada di kota yang full dikunjungi orang untuk merayakan pergantian tahun, mau tak mau pengen juga melihat. Jadi selama hidup ini, halah! Baru dua kali aku melihat perayaan tahun baru. Zaman SMA dulu dan tahun ini.
Mengikuti arus manusia yang berdesak-desakan ke pusat kota aku jadi bertanya-tanya, "mau ngapain sih, nih?" Tapi aku mencoba menetralisir kekesalanku dengan berpikir bahwa orang-orang butuh pelepasan selama setahun sehingga mereka butuh satu event yang membuat mereka bisa bersenang-senang sedikit. Jadi its okelah....
Tapi...tetep aja aku lebih suka bersama teman-teman kecilku di suatu kawasan kumuh itu ketimbang berdesakan disini, hiks!

Sunday, December 28, 2008

Jogja Never Ending Story


Aku masih duduk termangu di bangku penunggu Stasiun Tugu saat pengamen melagukan Yogyakarta-nya Kla Project. "Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu..."

Selalu begitu. Setiap kembali ke Jogja, aku merasa pulang ke pelukan masa lalu yang nyaman dan aman. Setelah letih memburu mimpi di Jakarta, aku selalu merindukan pulang ke Jogja, meski Jogga bukan tanah kelahiranku. Banyak hal yang tertinggal di sana, tentang jejak masa lalu, tentang kisah yang belum selesai dan tentang angan-angan yang terentang panjang. Aku tak bisa membandingkan Jogja dengan kota manapun, karena setiap saat aku berjanji untuk kembali, ke Jogja.

Setelah tiga tahun tak kembali, akhir tahun ini aku menyempatkan pulang ke Jogja. Banyak yang berubah pasca gempa dan tsunami. Parangtritis gersang dan pucat, jalanan Malioboro banyak tergilas bangunan-bangunan modern dan aku tak merasakan exotisme Jogja yang dulu. Tapi Jogja selalu menyuguhkan cerita bagiku. Kisahku satu persatu selalu berkaitan dengan Jogja, dari yang a hingga z. Tetapi sampai kapan Jogja hanya menjadi setting dalam semua cerita pribadiku? Saat menunggu kereta di Stasiun Tugu aku bertanya, mungkinkah Jogja akan menjadi sesuatu yang pasti dalam hidupku? Bukan hanya setting tanpa tokoh utama.

Thursday, December 25, 2008

Sebuah Perjalanan Panjang

"Hidup itu seperti perjalanan panjang untuk mencapai sebuah tujuan....kadang lurus kadang berbelok-belok...tapi yang pasti kita harus maju, jangan sampai mundur...."

Kesibukan yang parah membuatku lupa tanggal lahirku sendiri. Astaghfirullah!
Makanya jadi haru banget waktu Ibu nelpun dan ngingetin tanggal lahirku. Juga teman-teman yang menyelipkan doa-doa terbaiknya untukku di hari yang kusyukuri ini. Teman kantor, sahabat dekat juga teman dari benua lain yang masih mengingat aku ada. Subhanallah!

Terkadang aku nggak nyangka bisa sampai di usia ini, setelah banyak hal hampir merenggut satu-satunya nyawa yang kumiliki. Idih, dramatis amat! Tapi hidup terus berjalan, lilin-lilin kecil itu masih menyala, semangat itu akan terus ada, semoga semakin bertambah umur semakin bijak menyikapi hidup, semakin bisa belajar memilah, semakin memahami segala hal. Semoga-semoga.... amin...




Sunday, December 14, 2008

B E L A J A R

Hampir tiga bulan saya bekerja di salah satu televisi swasta dan selama itu pula saya memiliki kehidupan baru yang berbeda dengan kehidupan lama saya. Ritme kerja yang keras, siklus hidup yang berbalik dan teman-teman yang beraneka ragam. Sejauh ini saya bisa menikmati pekerjaan baru saya. Dari ide ke ide yang menguras kepala, dari meeting ke meeting yang alot, dari revisi ke revisi dan dari shooting ke shooting yang selalu mendatangkan inspirasi.

Setelah empat tahun bergelut dengan lonely profesi, sekarang saya harus bertemu banyak orang, bekerja dengan banyak orang dan merangkum banyak kepala menjadi sebuah karya. Awalnya saya kesulitan dengan ini (apalagi saya terbiasa egois terhadap sebuah karya) tetapi kemudian saya belajar bahwa bertoleransi, berdiskusi dan bermufakat dengan banyak kepala akan menghasilkan karya yang lebih baik.

Bekerja kreatif bagi saya sangat menyenangkan karena hasil dari pekerjaan itu bisa dinikmati dalam bentuk riil dan dikoreksi bersama banyak orang ketika sudah menjadi tontonan. Apalagi orang-orang di dalamnya punya jiwa yang hampir sama dalam bekerja, tidak terpaku nine to five tapi bagaimana pekerjaan tersebut cepat selesai.

Dalam lingkungan baru ini saya belajar, bahwa seorang karyawan yang punya chemistry dengan pekerjaannya akan mendapatkan hasil terbaik. Saya juga belajar bahwa semua orang ingin diakui dan ingin eksis dengan caranya sendiri (baik atau buruk). Saya belajar bahwa etika yang baik, emosi yang stabil akan mengantarkan seseorang pada posisi yang mulia. Saya belajar bahwa orang yang sukses adalah orang yang selalu BELAJAR.

Dan saya belajar mempercayai seseorang, belajar mencintai seseorang dengan tulus dan menerima cinta yang tulus pula. Ehm!J.

Sunday, December 07, 2008

FFI & JIFFEST

Film : Fiksi

Wahai penggemar film pendek dan dokumenter, jangan ketinggalan hajatan film bertaraf internasional yakni Jiffest yang sudah dibuka... Yuk! Kita update pengetahuan kita tentang film...Tapi sebelumnya siapa sih, nominator FFI 2008? Hm, siapa tahu penulis naskahnya kita kenal? Nih, nominatornya...


1. Skenario Cerita Asli Nominasi :
~ Awi Suryadi : CLAUDIA / JASMIN
~ Dirmawan Hatta : MAY
~ Joko Anwar / Mouly Surya : FIKSI
~ Nurman Hakim : 3 DOA 3 CINTA
~ Upi : RADIT & JANI


2. Penyutradaraan Nominasi :
~ Garin Nugroho : UNDER THE TREE
~ Mouly Surya : FIKSI
~ Rachmania Arunita : LOST IN LOVE
~ Upi : RADIT & JANI
~ Viva Westi : MAY


3. Tata Sinematografi Nominasi :
~ Ical Tanjung : MAY
~ Ical Tanjung : RADIT & JANI
~ Nayako Fionuala : THE BUTTERFLY
~ Yadi Sugandi : UNDER THE TREE
~ Yunus Pasolang : FIKSI


4. Tata Artistik Nominasi :
~ Budi Rianto : UNDER THE TREE
~ Eros Eflin : MAY
~ Eros Eflin / Vida Sylvia : FIKSI
~ Koesnadi : THE BUTTERFLY
~ T. Moty D. Setyanto : KUNTILANAK 3

5. Penyuntingan Nominasi :
~ Andhy Pulung : UNDER THE TREE
~ Muhammad Ichsan : FIKSI
~ Fastha Sunu : 3 DOA 3 CINTA
~ Wawan I. Wibowo : MAY
~ Yoga Krispatama : CLAUDIA / JASMINE

6. Tata Suara Nominasi :
~ Adityawan Susanto : UNDER THE TREE
~ Edo Sitanggang / Suhadi : RADIT & JANI
~ Khikmawan Santosa : 3 DOA 3 CINTA
~ Satrio Budiono : MAY
~ Satrio Budiono / Yusuf A. Tatawari / Aufa Ariaputra : FIKSI

7. Tata MusikNominasi :
~ Akhsan Sjuman : LOST IN LOVE
~ Anto Hoed / Melly Goeslaw : THE BUTTERFLY
~ Jaduk Ferianto : 3 DOA 3 CINTA
~ Kadek Suardhana / Wiwiek Soedarno : UNDER THE TREE
~Zeke Khaseli : FIKSI

8. Pemeran Utama Pria Nominasi :
~ Aming : DOA YANG MENGANCAM
~ Donni Alamsyah : FIKSI
~ Nicholas Saputra : 3 DOA 3 CINTA
~ Vino G Bastian : RADIT & JANI
~ Yama Carlos : MAY

9. Pemeran Utama Wanita Nominasi :
~ Ayu Laksmi : UNDER THE TREE
~ Fahrani : RADIT & JANI
~ Jeanny Chang : MAY
~ Ladya Cherryl : FIKSI
~ Fesita Pearce : LOST IN LOVE

10. Pemeran Pendukung Pria Nominasi :
~ Dwi Sasono : OTOMATIS ROMANTIS
~ Lukman Sardi : KAWIN KONTRAK
~ Oka Antara : AYAT-AYAT CINTA
~ Tio Pakusadewo : MAY
~ Yoga Pratama : 3 DOA 3 CINTA

11. Pemeran Pendukung Wanita Nominasi :
~ Ariyani Kriegenburg Willems : UNDER THE TREE
~ Ira Maya Sopha : CLAUDIA / JASMINE
~ Poppy Sovia : THE BUTTERFLY
~ Tutie Kirana : MAY
~ Tizza Radiah : CLAUDIA / JASMINE

12. Film Secara Utuh Nominasi :

~ 3 DOA 3 CINTA, produksi PT Investasi Film Indonesia dan PT TRIXIMAGE
~ CLAUDIA / JASMINE, produksi PT Nation Pictures
~ FIKSI, produksi PT SURYA INDRANTARA
~ MAY, produksi PT FLIX Pictures
~ UNDER THE TREE, produksi PT KARYA SET FILM dan PT CREDO CINE ARTS

Friday, December 05, 2008

PUING

Aku memutuskan pergi
Setelah cahaya terang itu menghisapku
Waktu menegaskan takdirku dan takdirmu
Berdentang seperti batas kematian
Tak usah kau sesali bangunan yang telah menjadi puing
Karena puing itu tak akan menjadi kenangan
: setitikpun bagiku

Sunday, November 23, 2008

HELLO FESTIVAL & GADIS BOND

Pengen banget refresh otak? Kemana ya, kemana ya?
Sabtu siang pas lagi bikin-bikin rencana tiba-tiba seseorang penggemar animasi mengajak lihat Hello Festival di Balai Kartini. Hm, oke juga tuh. Eh, ternyata ketemu beberapa teman kantor di sana. Meski aku bukan penggemar animasi, tapi oke juga buat nambah pengetahuan. Hanya sayangnya, kami gak bisa masuk ke dalam untuk ngelihat film-film animasi yang lagi diputar karena ruangan udah full. Kasihan deh! Trus kemana lagi nih?

Aku tiba-tiba ingat pesan sponsor and kata-kata mutiara produser di kantor agar menonton James Bond terbaru, “Quantum Solace”. Akhirnya kita ke Setiabudi untuk menemui James Bond, halah. Hm, seru sih! Craig seperti menciptakan karakter baru untuk Bond menjadi keras, kuat dan tidak plamboyan. Gadis Bond kali ini exotis banget.
Tapi aku gak pengen komentar banyak soal film itu, so..nonton aja sendiri! :P

Friday, November 21, 2008

In Your Smile

Waktu membenamkan mereka dalam kubangan rasa.
Masih segar luka hati gadis itu saat bertemu dengannya. Gayanya yang kalem, sikapnya yang tulus dan senyumnya yang menawan membuat gadis itu merasa nyaman berada disampingnya. Ngobrol dibalkon sambil memandangi kerlip lampu Jakarta, bercanda ataupun sekedar makan bareng di tempat-tempat yang berdesakan dan panas. Gadis itu diam-diam mengagumi seseorang yang tiba-tiba hadir mengisi hari-harinya, memerhatikannya tentang hal-hal kecil dan menatapnya dengan mata sayu dari kejauhan.

Banyak hal yang berubah sejak gadis itu bertemu dengannya. Kedewasaan dan ketulusan pemilik mata sayu itu membuatnya belajar tentang kebaikan, tentang cinta sejati dan tentang sepenggal kehidupan yang fana. Dan gadis itu pada akhirnya meyakini, masih ada lelaki baik di dunia ini. Yang sanggup melakukan ketulusan, kesetiaan dan kejujuran.

Dan percayakah kau, bahwa misteri yang Allah ciptakan adalah misteri terindah yang dijalani setiap makhluknya? Ya, gadis itu tak pernah menyangka bahwa setelah dipermainkan seseorang hingga terluka akan bertemu orang yang lebih baik. Bahwa Allah telah merencanakan segalanya untuk kebaikan semua hambanya.

“Aku ingin melihat senyummu setiap saat,” kata gadis itu saat mereka duduk di balkon memandangi kerlip lampu Jakarta.
“Dan aku akan selalu tersenyum padamu,” jawab lelaki itu seraya memperlihatkan senyumnya yang menawan.

Mereka saling tertawa lalu menatap masa depan yang gemerlap di kejauhan. Lampu-lampu Jakarta malam hari, semakin menawan.

Thursday, October 30, 2008

PETI AKAR

Akhirnya novel misteriku dengan nama pena baru terbit juga...Senangnya hehehe...
Jangan lupa dapatkan di toko buku terdekat ya...Pastinya asyik, menyeramkan sekaligus cerdas, halah! Narsis amat! Buktikan deh, kalo gak percaya...;)

Sunday, October 26, 2008

Soulmate

Saking sibuknya seseorang bekerja di kantor, aku sering dengar kata-kata gini : “kapan gue punya kehidupan?” Tapi sebagian orang malah mengatakan : “inilah kehidupan gue…” Dan dengan menemukan kehidupannya di tempat bekerja, maka pekerjaan itu ibarat soulmate bagi mereka.

Aku merasakan bertemu soulmate itu sekarang ( maksudnya soulmate pekerjaan). Bekerja di lingkungan orang-orang creative dengan ide-ide segar yang setiap menit selalu menguar (halah bahasanya keren amat!) membuat semangat selalu menyala. Menciptakan hal-hal baru yang menarik dan bertemu orang-orang baru yang selalu punya ide-ide unik kadang konyol membuatku seperti terlahir kembali. Apalagi menemukan orang yang teryata punya idealis tinggi untuk menciptakan tontonan yang bermutu. Jadi makin semangat untuk belajar dan terus belajar.

Kamu percaya nggak, kalau akhir dari setiap kesedihan selalu ada kebahagiaan di sisi yang lain? Aku sangat percaya karena sering banget mengalami itu. Setelah limbung karena something yang kalau dipikir-pikir membuatku tertawa sendiri, sekarang aku menemukan dunia baru yang so far membuatku lebih berbahagia. Ada yang bilang dunia broadcast memang dunia yang menyenangkan dan surganya orang-orang creative. Hanya saja mungkin sangat aneh bagi sebagian orang. Bayangin aja, jam kerja kami tidak menentu, kadang bisa pulang jam 3 pagi saat jelang shooting atau nggak pulang sama sekali. Bapak-bapak di kantor bilang : “kalo loe punya pacar, pasti deh diputusin. Nah, nyari aja di sini.” Hehehe. Kayaknya dari ide beginian nih yang menyebabkan cinta lokasi. Ya, gimana lagi? Kerja jungkir balik satu tim nyiapin shooting, jatuh-jatuhnya udah jadi senasib sepenanggungan kayak keluarga. Dan…apakah bakal ada cinta lokasi? Kita lihat saja setelah jeda iklan berikut ini. Wekekkekekke….

Thursday, October 09, 2008

Back to Office

Setelah kembali ke kampus, mulai tanggal 6 lalu saya kembali ke kantor!
Hm, menyenangkan juga bekerja dalam tim yang asyik dengan pikiran yang fresh. Meski ritme kerjanya keras tapi karena saya menyukai pekerjaan ini (setidaknya untuk saat ini) maka semua malah menjadi semangat tersendiri. Saya selalu yakin, ketika kita mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh maka suatu ketika akan dapat dipetik hasilnya. Suer? ;)
Semoga pekerjaan baru ini membawa berkah, amin....

Monday, September 15, 2008

Back to Campus

Setelah bertahun-tahun menunda keinginan, akhirnya tahun ini aku back to campus. Senengnya... Punya banyak teman baru yang lucu-lucu dan kadang ngaco bikin hidup lebih hidup! Apa sih? Yang jelas jadi lebih semangat. Apalagi dengan kuliah ini aku jadi bisa menyeimbangkan antara kerja otak kanan dan otak kiriku. Kalau selama kerja aku selalu menggunakan otak kanan, maka selama kuliah aku mengasah otak kiri. Semoga ini akan menyeimbangkan otakku dan jadi lebih baik dalam bertindak. Amin.

Tuesday, September 02, 2008

"Perempuan Dalam Koin" - short story

Suara Pembaruan, Minggu 31 Agustus 2008

Aku melompat keluar dari dalam koin saat gerimis turun. Kukibaskan ujung celana panjangku yang terciprat air kubangan. Angin senja menderu menerpa wajah, dingin menggigilkan. Koin seratus rupiah keluaran tahun 1978 itu berada di ujung kakiku. Aku mengambil koin itu dan mengusap debu yang menempel di permukaannya. Kuamati gambar hutan dalam koin itu. Di sanalah aku tinggal selama empat tahun terakhir. Tempat bersembunyi yang nyaman dan aman dari serangan bayang masa lalu dan ancaman masa depan.

Kukenang pertemuanku dengan koin ini. Tak tahan dengan perihnya kesepian, malam itu aku sempoyongan keluar dari diskotek. Mabuk berat. Saat memuntahkan seluruh isi perut di halaman diskotek, tiba-tiba pandanganku yang kabur menyambar kilatan koin di samping muntahan. Aku mengambil koin itu dan keinginanku muntah teralihkan sejenak. Saat menatap gambar hutan di salah satu sisinya tiba-tiba muncul cahaya dari dalam koin. Aku terpana menatap cahaya itu dan tersedot masuk ke dalam koin. Tak memerlukan waktu lama, aku sudah berada di hutan. Rasa mualku lenyap dan aku menemukan kedamaian yang luar biasa.

Aku memutuskan tinggal di dalam hutan itu dan membangun rumah kayu. Pagi-pagi aku keluar dari koin untuk berangkat bekerja dan malam hari kembali pulang ke dalam koin. Meski sendirian, kurasa hutan ini tempat paling cocok untukku. Aroma dedaunan yang pekat dan gemericik air sungai membuat rongga dadaku melebar dan nafasku longgar. Mimpi-mimpi malamku yang menakutkan karena bayang masa lalu lenyap dan suara-suara ancaman masa depan di telingaku menjauh. Aku menyebut tempat tinggal baruku ini hutan tanpa ketakutan.

Aku tersenyum mengingat pertemuanku dengan koin ini. Beruntung aku menemukan hutan dalam koin ini, kalau tidak, mungkin aku sudah menjadi pasien rumah sakit jiwa setelah perceraian itu. Kembali kuusap koin di tanganku dan kubalik perlahan. Gambar rumah gadang dengan atapnya yang menjulang singgah di mataku. Tiba-tiba aku melihat sesuatu bergerak-gerak di halaman rumah gadang itu. Aku memicingkan mata dan menemukan sesosok perempuan sedang membungkuk mengenakan sepatu. Perempuan itu bergerak mendekati mataku dan siap-siap melompat. Aku menepikan wajahku dan menunggu perempuan itu keluar dari dalam koin.

Begitu menjejakkan kaki di tanah, perempuan itu menatapku lekat. Matanya yang besar terlihat bingung sejenak lalu ia membuang pandang. Perempuan ini tidak cantik dan wajahnya cenderung sendu. Rambutnya terurai sebahu dan lingkaran hitam di bawah matanya seolah menjelaskan begitu banyak beban yang dipikulnya. Mengenakan celana jins belel dan kaus oblong ia tampak seenaknya. Ransel hitam menggantung di punggungnya dan tangan kanannya dihiasi gelang manik-manik antik. Aku menaksir perempuan ini memiliki tahun lahir tak jauh beda denganku.

"Kau tinggal di dalam koin?"
Perempuan itu mengangguk malas.
"Aku juga tinggal di dalam koin, tetapi di sebaliknya," kataku seraya membalikkan koin dan menunjukkan gambar hutan padanya.
"Kau ingin ngobrol denganku?" tanya perempuan itu sambil memeriksa jam tangannya. "Aku ada pekerjaan yang mesti kuselesaikan. Kalau kau ingin ngobrol, kau boleh ikut aku ke kafe."
Aku mengeryit. "Kau pelayan kafe?"

Ia menggeleng lalu berjalan meninggalkanku. Tanpa pikir panjang aku mengikuti langkahnya menyusuri trotoar. Setelah melewati deretan bangunan tua, perempuan itu berbelok ke salah satu kafe. Suasana Jakarta tempo dulu menyergapku begitu pintu kafe terbuka. Semua perabotan dan hiasan menyiratkan kehidupan zaman Belanda. Setelah memesan dua cangkir kopi dan brownies, perempuan itu membawaku ke lantai atas. Ia memilih meja pojok menghadap jendela.

"Meja ini tempat favoritku, pemandangan di jendela tampak indah," katanya sambil mengeluarkan laptop dari ransel. "Jadi sejak kapan kau tinggal di koin bergambar hutan itu?"
"Sudah empat tahun, kau sendiri?" aku balas bertanya.
Ia membuang pandang keluar jendela. "Seumur hidupku ini."
"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam koin yang sama sedangkan koin ini ada di tanganku? Bagaimana kau menemukan jalan kembali?"
Ia mengeluarkan sebuah koin dari saku celana jinsnya. "Aku juga punya koin yang sama, keluaran tahun yang sama. "
Pelayan datang mengantarkan dua cangkir kopi dan brownies. Perempuan itu kembali sibuk memencet-mencet tombol laptopnya. Wajahnya yang sendu berubah merana. Mungkin ia akan terlihat manis kalau tersenyum. Tanpa bicara padaku, ia memotong brownies dan meminum secangkir kopinya.

"Pekerjaanmu apa?" tanyaku penasaran.
"Aku seorang pendongeng."
Aku memandangnya takjub. Ia tersenyum sedikit dan aku bisa membuktikan bahwa perempuan ini cukup manis
*

Pertemuan dengan perempuan dalam koin itu kemudian menjadi agenda mingguanku. Aku sengaja keluar dari dalam koin pada hari minggu untuk ngobrol atau sekadar jalan-jalan dengannya di sebuah pusat pertokoan. Membeli barang-barang yang kami perlukan atau makan di tempat yang kami inginkan. Perlahan aku mulai menyelami pribadi dan karakternya. Ia mencintai pekerjaannya sebagai penulis dan menjelma sosok yang emosional.

"Aku ingin melihatmu tertawa," pintaku suatu siang saat kami menyusuri taman kota.
Ia memandangku jemu. "Tertawa? Apa yang harus kutertawakan?"
"Ayolah! Aku ingin melihatmu ceria, tegar, penuh semangat dan tidak ketakutan menghadapi hidup."
"Aku semangat dan tidak takut menghadapi hidup," jawabnya. Matanya menantang mataku. "Kalau aku tidak tegar, aku tidak akan bertemu denganmu. Ayahku mengkhianati ibuku lalu meninggalkan kami. Kekasihku mengkhianatiku lalu meninggalkanku. Sampai hari ini belum ada yang membuatku tertawa. Hanya tulisan- tulisanku yang mungkin akan mengantarku tertawa suatu ketika."

Aku tersentak lalu membuang muka dari sorot matanya yang membakarku. Mata itu seperti bara yang mengulitiku perlahan-lahan hingga terasa panas menyakitkan. Tiba-tiba anganku melesat ke masa silam. Mengingat seseorang yang kutinggalkan dan penyesalan yang terjadi setelahnya. Penyesalan yang membuatku memutuskan tinggal dalam koin itu. Apakah sosok mungil yang kutinggalkan itu akan seperti perempuan di depanku ini? Ataukah justru menjadi sesuatu yang lebih buruk lagi? Terkadang kita menciptakan monster- monster dalam diri orang lain tanpa kita sadari.

"Apakah kau bercita-cita menjadi lilin?" tanyanya mengagetkan lamunanku yang sekejab.
"Menjadi lilin? Maksudmu?"
Perempuan itu tersenyum sinis. "Kau selalu ingin menerangi orang lain, mendorong orang lain untuk tegar tetapi membiarkan dirimu sendiri leleh. Seharusnya kau mengubah cita-citamu."

Aku termenung. Perempuan itu memiliki intuisi yang tajam. Ia bisa membacaku. Aku memang ingin menjadi lilin bagi orang-orang yang secara tidak langsung menjadi korbanku. Meneranginya, membuatnya bangkit dari trauma yang berkepanjangan, tertawa ceria namun diriku sendiri meleleh. Tidak sanggup berhadapan dengan masa lalu.
"Kau sendiri apakah punya banyak hal yang membuatmu tertawa?" tanyanya seperti tamparan di wajahku.

Aku tertawa kecil, tawa yang hambar. Sesungguhnya aku ingin mengatakan pada perempuan itu bahwa ia telah memenangi sebagian dari pertarungan hidup. Ia sanggup membuka diri di hadapan orang lain, mengakui kepedihannya, mengakui traumanya dan menerima dirinya. Sedangkan diriku, masih bersembunyi di dalam bunker. Diam-diam, aku iri pada perempuan itu.
*

Hampir sebulan aku kehilangan perempuan dalam koin itu. Mendadak hidupku sedikit runyam. Aku kehilangan teman ngobrol yang menyenangkan. Sinisme-sinismenya yang terkadang membuatku tertohok hingga sedikit marah dan dongeng-dongengnya yang menghibur.
Setiap pagi sebelum berangkat bekerja aku menunggunya di muka koin bergambar rumah gadang. Berharap ia sedang membungkuk mengenakan sepatu atau menyapu halaman rumahnya, namun ia tak kunjung muncul. Kukunjungi tempat ia menyelesaikan dongeng-dongengnya, tetapi tak kutemukan juga.

Bulan kedua, aku memberanikan diri mengusap sisi koin bergambar rumah gadang itu. Cahaya muncul dari dalam koin dan aku nekat memasuki koin itu. Setelah jatuh terpental di halaman rumah gadang, aku segera bangkit dan menyusuri undakan rumah. Kuketuk pintunya yang tertutup rapat. Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara sandal diseret dari dalam rumah mendekati pintu.

"Oh, kau masuk ke dalam koinku?" tanyanya kaget.
Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah. Beberapa tas bepergian berjajar di samping pintu. Bahkan ia sudah menyandang ranselnya seperti hendak bepergian.
"Kau hendak pergi?" tanyaku.
Perempuan itu mengangguk dan tersenyum lebar. Sesaat aku terpana menatap lekuk bibirnya yang membuatnya tampak sangat manis. Wajahnya juga terlihat cerah dan penuh semangat.
"Aku memutuskan tidak tinggal di dalam koin lagi," katanya masih tersenyum. "Dunia di luar sana terkadang memang mengerikan, tetapi aku bukan pengecut. Aku sudah siap menghadapi apapun yang sudah terjadi dan bakal terjadi. Karena itu, aku akan pergi."

Aku terhenyak. Ingin kucegah kepergiannya, tetapi bukankah menghadapi kenyataan lebih baik ketimbang bersembunyi di dalam bunker hidup seperti aku? Aku membantunya mengangkat tas bepergian dan mengantarnya keluar dari dalam koin. Ia mengulurkan tangannya padaku saat taksi tiba.

"Apakah kita tak akan bertemu lagi?" tanyaku bergetar.
Perempuan itu tertawa kecil. Tawa pertama yang pernah kudengar darinya. "Mungkin kita akan bertemu, mungkin juga tidak. Tergantung berapa lama kau sanggup keluar dari dalam koin itu dan berani menghadapi kenyataan."

Ada yang bergerak menjauh dari hatiku saat taksi meninggalkan tempatku berdiri. Kuambil koin di saku celanaku, kupandangi sejenak dan kubolak-balik perlahan. Berapa lama lagi aku akan bersembunyi di dalam koin ini? Mungkin setahun, dua tahun...
Entahlah.

Kemang, 2008
To: Irfani

Monday, September 01, 2008

Sahabat yang Tepat disaat yang Tepat

Pernah gak merenungi perjalanan hidup ini dan belajar mensyukuri bahwa segala sesuatu yang kita peroleh saat ini adalah yang terbaik untuk kita dan yang tepat untuk kita? Hm, pernah juga gak merasakan bahwa lambat laun mimpi-mimpi kita tentang suatu hal yang 'baik-baik' itu terwujud?
(Foto By : Aye)
Dan saat merenung kayak gitu, saya sering merasa betapa tidak bisa bersyukurnya saya dan betapa naifnya saya.Karena hobby melamun ( mungkin lebih baik merenung ya) aku selalu mencoba memahami bahwa apapun yang terjadi dalam hidupku adalah yang terbaik. Bahwa segala sesuatunya adalah pembelajaran. Juga pertemuanku dengan bermacam-macam orang yang selalu tak terduga.

(Foto By: Aye)
Saat aku butuh semangat, Allah mempertemukanku dengan sahabat-sahabat di Yayasan Martabat. Mereka yang hampir semuanya S2 beasiswa dari luar negeri (Belanda, Filipina, Australia) mendedikasinya diri untuk kawasan kumuh Tambora dan berusaha memajukan adik-adik yang terancam putus sekolah dengan memberi beasiswa pendidikan dan mengajar tiap hari minggu. Padahal sahabat-sahabat ini punya segudang kesibukan yang luar biasa padatnya. Subhanallah!
(Foto By: Aye)
Dari adik-adik yang hidup di rumah-rumah sempit namun semangat meraih cita-cita, dari sahabat-sahabat yang semangat membantu mereka yang kekurangan, membuat semangatku yang redup kembali menyala. Aku tiba-tiba merasa malu, betapa Allah sangat sayang pada setiap hambaNya? Saat kita membutuhkan sesuatu, maka Allah menyiapkan apa yang kita butuhkan, hanya saja kita sering terlambat menyadari. Sahabat Martabat, sahabat yang tepat di saat yang tepat.

Saturday, August 30, 2008

Sekitarku

Ternyata lingkungan tempat tinggalku asyik juga lho! Soalnya belum lama pindah jadi masih belum familiar banget, bahkan masih suka nyasar :P
Kalau Sabtu-Minggu habis olahraga sepeda, asyik banget sarapan di dekat bunderan trus duduk-duduk di bawah plang ini... hehehe. Nah, kalau sore-sore teduh banget, sambil bawa laptop deh, ngayal ke sana ke mari menikmati semilir angin, asyiknya...

Atau kalau mau jalan-jalan kita bisa pilih alat transfortasi dari becak, ojek, metromini, bis bahkan gethek (perahu). Asyik juga lho, murah meriah sampai jalan raya. Nih, buktinya. Ayo, siapa mau main ke sini, aku ajakin naik perahu...:)


Pokoknya dijamin asyik!